Beranda » ceritaku » ASA

ASA

Dan kita tidak pernah tahu yang akan terjadi besok. Bahkan, dalam hitungan menit. Kita sering merasa bahwa kita paling malang di antara semua manusia yang ada di dunia ini. Prasangka yang lebih dulu muncul sebelum mau menilai hal lain dalam hidup kita. Terlalu mudah menilai daripada mencari jalan keluar. Lebih mudah menyerah daripada berpikir jernih.

Hidup terus berputar kawan. Jadi, untuk apa kita terus menyesali yang telah terjadi. Ini memang mudah dikatakan, tapi tidak untuk dijalani. Namun, bukan berarti aku tidak pernah merasakan kesedihan sehingga dengan mudah mengatakannya. Kau tahu aku pernah dan kau tahu mungkin saja ini lebih berat dari yang dibayangkan banyak orang. Kondisi labil membuatku tak jarang gontai dalam berjalan. Sedikit guncangan membuat putus asa.

Kadang aku menyesali diriku sendiri. Kenapa Tuhan harus menciptakan aku sebagai makhluk idealis? Tak jarang aku ingin hidup sederhana seperti lainnya tanpa embel-embel cita-cita yang terlalu tinggi. Namun, salahkah jika kita menginginkan sesuatu yang lain dari orang kebanyakan? Dan aku bersyukur dengan perbedaan yang aku miliki ini. Sesuatu yang beda hingga membuatku membara untuk hidup lagi. Seperti kayu basah yang mesti bersakit-sakit dijemur sebelum akhirnya mampu dinyalakan dengan api. Sebuah impian yang menanti di ujung jalan. Dia yang menunggu dengan langkahku yang tertatih.

Suatu malam aku pernah mendapat pesan singkat dari seseorang yang hingga sekarang masih tersimpan. Bukan di dalam inbox telepon genggam, melainkan di benakku. Di dalam satu memori yang lebih kuat dari komponen komputer.

Begini kira-kira kalimatnya waktu itu “Jika kehendakmu tidak sejalan dengan kehendakNya, biarkan kehendakNya yang sejalan atas hidupmu. Karena kehendakNya adalah kebaikan untukmu…Ya Rabb jadikan kami pemilik ikhlas itu…”.

Intinya adalah sebuah keikhlasan, itu yang aku tangkap dalam jaring posisiku jika dihadapkan dengan nama Tuhan. Bisa jadi ini karena lemahnya aku dibandingkan kekuatan tak terhingga yang mampu menciptakan langit, bumi, dan isinya. Saat itu, aku hanya menjawab bahwa aku tak pernah bisa mendefinisikan makna satu kata tersebut, hanya bisa merasakannya. Aku hanya mampu melakukan hal terbaik yang aku bisa. Setelah itu, jika memang gagal akan aku simpan dalam peti perak di hati yang suatu saat kelak bisa menjadi sebuah kenangan.
Kenangan manis, indah, sebuah pelajaran, atau bahkan menjadi sesuatu yang menggelikan hingga aku mampu tertawa karena kenangan itu.
Kata dia, itu karena tingkatanku alias maqam (yang terakhir ini bahasa dia yang mantan anak pesma) berbeda dalam menyikapi sebuah keikhlasan. Aku tidak pernah merasa diriku seperti itu, sebaliknya aku merasa tidak mempunyai banyak ilmu tentang ini. Ah, keikhlasan itu kawan memang tidak harus diungkapkan dengan kalimat “Aku ikhlas melakukannya”. Bukan seperti itu, keikhlasan hanya bisa dirasakan hati kita, dengan kata lain hanya kita dan Sang Pemilik Napas yang tahu.

Kerelaan atas segala sesuatu yang harus, bahkan wajib, kita lepaskan. Ini terkadang bukan keinginan kita. Berpisah dengan seseorang yang pernah melekat pada hati kita adalah hal berat. Namun, bukan berarti kita tidak mampu melakukannya. Apalagi jika seseorang itu bukan hak titipan kita lagi. Seseorang yang hanya dalam hitungan jam, menit, detik, membersamai kita. Sementara kita santai saja bila kehilangan Tuhan dalam hati kita. Semoga kita tidak termasuk dalam golongan demikian.

Tidak pernah ada yang kebetulan di dunia ini. Semua telah diatur dalam agenda Tuhan. Alur kehidupan ini menjadi sebuah adegan yang tak pernah putus. Hidup dengan cara pandang luas akan membantu kita menghadapi berbagai hal yang selalu kita pikir sebagai kebetulan. Kedekatan dengan Tuhan membuat kita kuat melalui berbagai rintangan yang hadir di perjalanan panjang.

Dalam pengembaraan di dunia yang fana ini. Dengan semakin hilangnya usia. Dengan semakin sedikitnya waktu yang kita punya. Dengan berbagai peristiwa yang datang silih berganti. Apalah yang kita cari selain cinta hakiki. Satu cinta yang tertanam hanya karena Dia yang satu. Bila harus membenci, biarlah kebencian kita hanya karena Dia semata. Bukan karena hal ringan yang justru akan mengotori hati kita.
Kawan, hal yang telah hilang dalam dirimu bukanlah sesuatu yang perlu disesali. Sebab, kau melakukannya untuk satu tugas suci. Kesedihan itu adalah hal yang tidak bisa kita hilangkan dalam hidup kita. Seperti warna abu-abu yang akan membuat warna lain tak berkesan jika dia tak ada. Tak akan ada warna cerah jika warna gelap tak hadir.

Kawan, apakah ini hanya untuk menyenangkanmu? Apakah hanya untuk membesarkan kecilnya hatimu? Ini tidak salah, tapi bukan pula benar 100%. Sebab, bisa jadi ini adalah sebuah semangat tersendiri untukku. Katakanlah pada diri kita sendiri kawan, ketika kita telah mengambil satu langkah haram hukumnya untuk kembali ke belakang bahkan hanya untuk menengok sekalipun. Tetaplah melaju ke depan dengan segala risiko yang menanti. Mari percaya pada diri sendiri semua akan membaik seiring waktu yang berjalan di hadapan kita.

Terima kasih kawan telah memercayaiku…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s