Beranda » Uncategorized » Psikologi ‘freund’ sastra

Psikologi ‘freund’ sastra

Musim liburan telah tiba. Saat seperti ini mengingatkan betapa nikmatnya berkumpul dengan kawan di kampus. Iseng-iseng pagi ini membuka beberapa buku bersejarah masa kejayaan di Green Campus uhhuuyyy.

Benar juga kata pepatah, jika kau menulis di atas batu akan tetap hidup meski penulisnya telah mati. Sambil menikmati kemebulnya teh klothok’an, saya jadi teringat dengan salah satu mata kuliah dari bapak yang duet dengan ibu kesukaan saya yang lemah lembut dan pinter ah pokoknya putri solo banget. Namun, saat saya hendak hengkang dari pertapaan, saya jadi paham dan beruntung sempat ngangsu kawruh pada beliau berdua.

Baiklah mari kita mulai. Jadi, di akhir-akhir kehidupan di kampus kami ada mata kuliah yang mengajarkan cara untuk membedah sebuah masalah dalam karya sastra. Ini bisa dilihat dari bidang sastra, kebahasaan (linguistik), atau dari pernaskahan (filologi). Kami menyebutnya sebagai metode penelitian (metopen). Mata kuliah ini sangat penting meski menguras otak dan melelahkan. Dalam dua sks kita dituntut untuk belajar menganalisa masalah di bidang diminati. Jika mengambil sastra bukan berarti hanya mengambil metopen sastra, harus ketiganya. Seperti yang pernah saya singgung bahwa sebenarnya satu ilmu tidak bisa dilepaskan dari yang lain. Karena itu, walaupun saya minat bidang pernaskahan, tetap mengambil metopen sastra dan linguistik. Sebab, kenyataannya saya tetap menggunakan keduanya dalam tugas akhir. Di sini lah saya mengenal lebih dalam tentang psikologi sastra. Memang seharusnya ini sudah didapat pada semester lima, tapi entah degan alasasan apa tidak diberikan. Padahal, psikolinguistik kami dapat lho.

Psikologi sastra sebenarnya bisa bersanding dengan sosiologi sastra, bahkan mungkin mereka beririsan. Psycho berarti jiwa dan logos adalah ilmu. Jadi, ilmu tetang jiwa. Psikologi sastra melihat dari sisi kejiwaan tokoh-tokohnya. Sementara sosiologi ditinjau dari sudut kondisi sosial si pemilik jiwa. Pada tulisan ini saya akan mengintip empat kemungkinan yang dapat dibahas dalam psikologi sastra.

Seperti yang diketahui, kita akan menggunakan cerpen atau novel dalam menganalisa. Nah, keduanya merupakan karya sastra yang termasuk dalam karya fiksi. Karya tersebut akan muncul dengan tiga kemungkinan. Pertama, karya ini hadir karena berangkat dari sesuatu yang TELAH ada. Kedua, karya ada karena dari yang MUNGKIN ada. Ketiga, dia hadir karena dari yang MEMANG ada. Masing-masing latar belakang hadir ini akan memberikan pengaruh pada karya dan pisau yang digunakan untuk membukanya.

Mari kita lanjutkan, menurut Austin dan Rene Wellek pada psikologi sastra ada empat kemungkinan yang bisa dianalisa dari sebuah karya.
1. Studi psikologi pengarang sebagai pribadi.
Jika kita membedah sebuah karya dari segi psikologi pengarang sebagai individu, ada beberapa hal yang dapat kita bahas. Pertama, kondisi kejiwaan pengarang ketika menulis karya. Pengarang yang sedang mengalami patah hati akan lebih mudah menuangkan kekecewaannya daripada sukacita saat jatuh cinta. Kedua faktor-faktor psikologi yang ada pada diri pengarang sehingga pengarang menciptakan karya tertentu. Ketiga, kita bisa melihat dari sisi psikologi pengarang yang dapat dijadikan sebagai latar belakang hadirnya sebuah karya.

2. Proses kreatif pengarang
Proses kreatif ini terkait dengan latar belakang penulisan karya. Hal itu bisa dilihat dari pengalaman pribadi pengarang, dari membaca, atau dari berbagai informasi yang diperoleh. Pengarang juga bisa menangkap sesuatu dari lingkungannya (dengar, lihat, dan rasakan) yang kemudian dituangkan dalam tulisan. Perbedaan waktu juga menjadi proses kreatif sendiri bagi seorang pengarang. Sebab, walau bagaimanapun pengarang adalah tuhan bagi karyanya. Jadi suka-suka si pengarang dalam membuatnya dan tentu saja ini membuat mahasiswa kesulitan saat membahasnya.

3. Penerapan ilmu psikologi pada karya sastra
Artinya saat akan meneliti sebuah karya harus disesuaikan dengan kondisi karya sastra itu sendiri. Hal yang harus diperhatikan ketika akan membahas bisa dilihat dari gejolak atau perasaan. Dari perasaan semua tokoh, kita mencari yang paling tepat untuk dibahas. Selain perasaan, kita juga harus melihat kondisi para tokoh di dalam karya sastra itu. Dalam penerapan ilmu psikologi salah satunya adalah tentang ekstrovert dan introvert, meski manusia tidak pernah 100% salah satu itu ehehheheehh. Dua contoh itu hanya satu butir pasir di pantai jika kita akan membahas psikologi sastra. Bukannya apa-apa, tulisan ini bahkan belum menyentuh tentang satu tokoh pun dalam dunia psikologi sastra.

4. Dampak pada pembaca
Bagian yang terakhir adalah kita lihat sebuah karya sastra yang membeikan dampak pada pembacanya. Fungsi sebuah karya sastra selain menghibur dan bermanfaat, juga bisa memberikan katarsis pada pembacanya. Apa itu katarsis? Makanan yang dulu sangat asing, tapi sekarang akan saya bagi eheheheheh. Katarsis adalah penyucian jiwa. Jadi, karya sastra bisa membuat seseorang kembali baru karena jiwanya kembali ‘suci’. Ketika membaca karya yang menceritakan kemalangan, seseorang yang sedang mengalami kemalangan akan berpikir bahwa dia tidak sendiri. Pembaca akan merasa terwakili dengan hadirnya tokoh dalam karya sastra itu, meski dia paham betul bahwa itu hanya khayalan, tokoh imajinasi. Karya sastra seperti setiap jengkal yang ada di bumi ini. Dia bisa memberikan efek negatif atau positif. Jadi, semua tergantung pada yang membaca atau memahaminya. Terkadang ada hal yang awalnya diciptakan untuk kebaikan, tapi ada juga orang yang menggunakan untuk hal yang buruk.

Nah demikianlah sekelumit tentang psikologi sastra. Belajarlah pada guru, pada manusia, bukan pada buku atau hanya tulisan seperti ini.

INGAT TULISAN INI BELUM PERNAH DISARIKAN. JADI JANGAN MENJADIKAN SUMBER DATA UNTUK MENGERJAKAN TUGAS YA!!

Salam sastra!!

Iklan

10 thoughts on “Psikologi ‘freund’ sastra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s