Beranda » sokanalitis » Mengintip Matahari

Mengintip Matahari

(setelah sekian lama istirahat inilah tulisan terkini hehheeheh)
Suatu Sabtu sore di Gedung Annex, sebuah kesenangan tersendiri bisa mengedit naskah Ayu Utami. Siapa tak tahu novelis yang menjadi salah satu orbek di negeri kita, mungkin juga luar negeri. Semua orang tentu sudah tidak asing lagi. Tema tulisan yang diangkatnya saat itu adalah tentang sekolah (juga kuliah). Awal mula saya ingin menulis ini karena komentar seorang kawan di grup rahasia angkatan kami. Apalagi kalau bukan kelompok yang sengaja dibentuk angkatan 2005 Sasindo. Angkatan kami memang kreatif, forum grup dijadikan tempat komunikasi, bertukar pikiran dan informasi, ngobrol, dan lainnya. Maklum semakin lama, makin jarang kami bertemu. Karena itu, tak ada salahnya memanfaatkan sebaik mungkin.

Kawanku berkata bahwa tanpa sekolah dia membuktikan bahwa dirinya mampu mendapat pekerjaan layak dan tentu saja mapan. Namun, apakah seperti itu? Ayu Utami agaknya setuju dengan pendapat tersebut. Dia pernah menulis bahwa sekarang banyak orang berpendidikan tinggi yang tak mampu mendapat pekerjaan. Banyak perusahaan takut mempekerjakan orang berpendidikan tinggi yang tentu saja akan terkait dengan gaji. Mana mungkin orang dengan pendidikan tinggi bisa digaji rendah. Orang yang susah payah meraih gelar di luar negeri bagaimana bisa digaji seadanya yang mungkin tidak akan imbang dengan pengeluarannya saat sekolah? Begitulah pendapatnya. Jika sekolah dan kuliah hanya untuk mencari ilmu, kenapa harus dilsayakan sekarang? Bukankah itu bisa dikerjakan nanti ketika sudah tua? Demikianlah kira-kira inti.

Saat ini gelar S1 bukan lagi hal istimewa. Orang mulai bergerak untuk mendapat gelar yang lebih tinggi. Lantas saya berpikir, ketika semua orang mengambil gelar sarjana, kemudian mengambil master, siapa yang akan bekerja sebagai operator, teknisi, atau bahkan cleaning service? Sebenarnya apa yang dicari dari gelar-gelar itu? Ambisi? Ketenaran? Kata WAH? Sekadar keinginan? Atau memang kebutuhan? Ketika di benak saya muncul pertanyaan ini, lantas muncul satu pemikiran kenapa kita tidak mengembalikannya sebagai ibadah? Bukankah kita hidup hanya untuk menyembah Tuhan?

Ibadah? Apa itu ibadah? Menurut KBBI kata ini masuk kata benda atau nomina alias noun. Kata ini diartikan sebagai perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Allah, yang didasari ketaatan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Bila hanya pengertian ini yang muncul saat kata ibadah muncul, Anda dan saya hanya akan menghabiskan sekitar 2-3 tahun kehidupan untuk ritual ini. Karena itu, saya lebih suka mengatakan menuntut ilmu adalah sebagai salah satu proses dalam kehidupan saya untuk mengabdikan diri kepada Tuhan (ibadah). Lho kenapa ini merupakan salah satu? Sebab, bagi saya setiap langkah dalam kehidupan adalah ibadah jika kita benar-benar meniatkannya untuk itu. Berbakti kepada orang tua, bekerja, atau menikah, bisa menjadi proses menuju Illahi.

Dalam pembicaraan lewat telepon, dulu almarhum ayah saya mengatakan, jika kau hanya ingin menjadi bahan pembicaraan omong kosong kenapa harus sulit, datang saja ke Bundaran HI dan nyemplung mandi di sana. Semua orang akan melihatmu dan meliputmu seperti aksi bintang film yang mencoret Gedung Senayan. Minimal, kau akan ditangkap polisi pariwisata. Bukankah begitu?

Orang yang tidak berpendidikan, tapi berhasil memang ada. Apalagi orang yang mengenyam bangku sekolah. Jika ada orang yang sekolah tinggi kemudian tidak sukses. Apalagi dengan orang yang tidak tahu baca tulis.

Dunia ini tentu diciptakan tidak hanya untuk dijadikan ajang perbudakan sehingga semua manusia selalu menjadi bawahan. Namun, bola yang bernama bumi ini diciptakan dengan sempurna seperti Tuhan menciptakan manusia. Semua serbaimbang dan perfect. Ada yang menjadi pemimpin, tapi ada pula yang menjadi staf. Ada yang menjadi penjual pasti ada yang menjadi pembeli. Dunia yang kita lakoni sekarang persis seperti mainan anak-anak. Siapa akan memerankan apa. Bisa jadi sekarang Anda dan saya belum mendapat giliran peran. Bisa juga kehidupan kita diibaratkan dengan lagu Panggung Sandiwara-nya Ahmad Albar yang dinyanyikan kembali oleh Nike Ardila.

Satu saat kita menempatkan diri sebagai wayang yang harus, bahkan WAJIB, mengikuti perintah dan gerak tangan Dalang. Kita pasrah dengan segala kehendak-Nya untuk menjadi apapun. Di satu sisi Kita diciptakan dengan kekuatan yang bisa bisa mengubah jalan hidup. Bahkan, Sang Dalang tak hendak mengubah jika tak mau kita berusaha.

Jadi bagaimana? Apakah Anda termasuk orang yang menjadikan pendidikan sebagai salah satu proses kehidupan (ibadah) untuk mencapai tujuan (Tuhan)?

Iklan

2 thoughts on “Mengintip Matahari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s