Beranda » sok PUITIS » melodi

melodi

nada

Jari ini terus menari di atas tuts piano. Hitam-putih. Dentingnya terasa begitu dalam. Menelusup di bagian terdalam. Nada dan not. Hanya sesuatu yang biasa bagi yang tak mengetahuinya. Namun, bagiku nada adalah bagian sebuah lambang. Satu demi satu memberikan maksud. Dan, nada yang aku perdengarkan ini adalah nada yang aku suka. Satu nada yang membuat kita tenang dengan istirahat sejenak.

Aku terpejam, tapi tetap menekan tuts itu. Aku mengingat saat kita bersama. Saat kita bicara. Saat aku mengingat cara bicaramu. Mengingat makanan kesukaanmu. Mengingat warna-warna yang mewujud sebagai dirimu. Ya, aku ingat kau begitu suka hitam yang elegan. Tapi, kau juga menyukai hijau nan permai. Atau, biru.

Benar memang yang dikatakan para psikologi warna itu. Semua warna yang kau suka menyiratkan bahwa itulah dirimu seutuhnya. Aku tahu kau suka sawah dan lingkungan yang bersih. Alam pedesaan dengan segala kerindangan pohonnya. Tak salah jika kau punya cita-cita beternak dan membangun rumah batu di sebuah desa kecil. Dari warna hijau, aku tahu kau keras kepala. Namun, di balik itu kau teman yang menyenangkan bagi kawan-kawanmu. Pantaslah jika kau selalu dirindukan mereka. Tentu saja aku kalah dengan kawan-kawanmu itu. Ah, tak apa kau memang teman yang selalu membuat ceria.

Suatu hari aku melihatmu memuja warna gunung yang kita lihat dari kejauhan. Kau bilang betapa menariknya warna itu. Aku mengiakan karena aku pun melihatmu sungguh menarik dengan paduan warna biru di dirimu. Kau tahu biru? Warna itu menggambarkanmu yang bebas. Bukankah kau tak ingin terkekang dan dikekang? Ya, aku tahu itu seperti suatu kali saat aku menyarankanmu untuk masuk ke dalam komunitas yang tidak sama sekali kau sukai meski kau tahu itu bidangmu. Kau ingin bebas sebebas gunung yang menjulang tinggi di angkasa. Pun seperti wana yang menyayangi semua di dalamnya. Kau penyayang yang bisa menyayangi siapapun di dekatmu.

Dan hitam yang membuatmu selalu tampil alami dan percaya diri. Aku tahu kau orang yang konservatif. Selalu ingin mempertahankan semua tradisi. Selalu berpegang atas adat. Sampai-sampai aku kadang menjulukimu kolot. Kau memang kolot. Seperti halnya sepatu yang kau pakai setiap hari. Sangat sederhana dan sporti. Kau wajib tahu bahwa kau memang kolot. Namun, yang lebih aku suka adalah kau pemegang prinsip yang kuat dengan segala keterbukaan. Kau open minded. Oh Tuhan betapa kau sangat sempurna di balik kekuranganmu yang bejibun. Dan aku gembira sempat mengenalmu “agak” dekat.

Satu lagi yang aku ingat darimu. Kau mengaku suka putih dan suka dengan baju putih, tapi tak mau memakainya. Kau bilang akan cepat kotor dan sulit mencucinya. Hingga, ibumu harus berjuang keras saat baju putih favoritmu kotor. Putih, kaulah pembawa damai. Selalu tenang dan tidak memihak. Kau pendengar yang baik dan mampu berteman dengan semua orang. Kau sekali lagi menjadi orang yang menyenangkan.

Jari terus menari. Mata terus terpejam meski tak terasa air mata mengalir. Aku terus teringat tentang kita. Tentang perjalanan, tentang pertengkaran, tentang diskusi, tentang sampai kapan kita akan kembali bersama.

Nada ini kesukaanku. Nada terendah sebagai simbol aku harus berhenti. Namun, apakah aku juga harus berhenti mengingat tentang kita. Satu nada yang terangkai menjadi melodi, menjadi harmoni, dan menjadi bagian dari akord. Notasi balok itu terbang tertiup angin. Mungkin pejaman mata ini akan membawaku kepadamu.

~Nada menanti harmoni~

*foto diambil dari sini

Iklan

2 thoughts on “melodi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s