Beranda » ageming ati » sekuel*5

sekuel*5

Salah satu status dari seorang teman yang mengatakan kerabatnya meninggal dunia. Saya lantas teringat betapa susahnya melepaskan sesuatu yang sebenarnya bukan milik kita.

Kita adalah sebuah titipan. Nyawa dititipkan pada raga kita. Ketika sudah waktunya nyawa diambil, bukan hak raga untuk mempertahankannya. Banyak hal di dunia ini yang kita klaim menjadi milik kita. Ini mulai keluarga, barang, jabatan, atau berbagai hal yang kasatmata.

Tanpa kita sadari bahwa semua hanya bentuk kebaikan dan kemurahan sang pemilik yang diberikan kepada kita. Namun, saat salah satu keluarga kita diambil kita harus tidak merelakannya. Saat jabatan kita diduduki orang lain, kita tidak mengikhlaskannya. Ketika barang kita hilang, kita mengumpat habis-habisan.

Hidup dan kepemilikan adalah sebuah proses. Satu perjalanan panjang yang memiliki tujuan. TUJUAN adalah sebuah AKHIR. Lantas jika kita menjadikan sebuah kepemilikan sebagai tujuan, sesungguhnya kita TIDAK MEMILIKI TUJUAN.

Harta dan takhta, mungkin juga cita-cita adalah sebuah kepemilikan. Kita mengakui itu adalah milik kita. Kita lantas menghitung yang telah menjadi milik kita.

Teman-teman yang selalu ada di dekat kita. Saat ada kita merasa memiliki mereka tanpa kita menyadari bahwa suatu hari mereka bisa jadi meninggalkan kita dengan berbagai alasan. Apakah benar mereka akan menemani kita dalam senang dan susah?

Keluarga yang senantiasa mencintai dan menyayangi kita. Benarkan mereka tidak akan pernah meninggalkan kita? Membelai selalu dalam kecintaan. Menyayangi selalu dalam berbagai kondisi meski kematian?

Harta yang kita kumpulkan, jabatan dan karier yang telah kita raih, prestasi dan sejuta nilai akademi yang kita dapati. Semua hanya titipan bukan yang lain.

Tak seharusnya kita memaksakan diri untuk memiliki. Tak semestinya kita menekan diri kita untuk memiliki. Hal yang harus kita sadari adalah sebenarnya kita hidup sendiri dan tanpa sesuatu. Hendaknya kita membayangkan ketika terlahir di dunia. Tanpa jabatan, tanpa harta, bahkan sehelai benang pun yang menempel di tubuh kita. Kecuali kasih Tuhan yang diberikan lewat orang tua kita.

Lantas apakah kita tidak boleh berusaha untuk mendapatkan semuanya? Bukan demikian, Tuhan melarang kita untuk berpasrah sebelum kita berusaha memperjuangkannya. Tuhan tak akan mengubah nasib kita tanpa ada usaha. Apakah kita sadar bahwa kita telah menjadi pejuang sejak sperma mendekati ovum yang menjadi bakal janin kita?

Namun, sekali lagi kita harus ingat bahwa hal yang kita perjuangkan adalah sebuah wahana, satu sarana untuk mencapai tujuan. Semakin kita merasa memiliki banyak hal di dunia ini, kita akan semakin terus-menerus merasa kehilangan. Karena itu, hendaknya kita sadar semua yang ada di diri kita adalah titipan semata untuk memenangkan tujuan, yaitu TUHAN. Sebab, tujuan selain Dia adalah sebuah fatamorgana.

>>sebuah catatan untuk tetap twakal setelah berikhtiar<<

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s