Beranda » sokanalitis » ~LULUS~

~LULUS~

Setiap orang yang sekolah pasti menginginkan satu kata ini. Namun, entah kenapa banyak orang yang memiliki banyak hal untuk terus dan terus menundanya hingga waktu limit. Padahal, dia tahu bahwa sekolah (dalam hal ini kuliah) ada batas waktunya. Apalagi, sekolah negeri macam sekolahku dulu.

Berbagai alasan dikemukakan untuk menjadi sebuah pembenaran atas lambatnya kelulusan. AKTIVIS selalu menjadikan penuhnya kegiatan sebagai alasan utama. Tentu sangat memalukan bila itu ternyata terjadi pada orang-orang produktif di kampus. Ketua teater lah, ketua mapala lah, ketua bem lah, ketua kerohanian lah, atau ketua-ketua yang lain. Bahkan, virus berlambat-lambat dalam sekolah ini merambat sampai ke para staf.

Maha : besar dan siswa : setara dengan murid. Seseorang yang belajar. Mahasiswa memang gelar yang sangat prestisius. Bagaimana tidak? Dia adalah satu kelompok tempat generasi muda digodok. Kawah Candradimuka membuat mereka setangguh tokoh pewayangan. Namun, mereka tidak sadar betapa lamanya mereka ngendon di kawah yang seharusnya membuat dia berjaya.

Para (mantan) aktivis dan kroninya tidak akan pernah lepas dari jerat kampus sebelum dia diperingatkan para dosen untuk segera lulus. Detik-detik terakhir di kampus dengan masa tujuh tahun “mengabdi” di tempat yang tidak menginginkan dia lagi. Sangat memalukan. Bahkan, sangat banyak yang harus memperpanjang masa di kampus karena sudah lebih dari tujuh tahun.

Tulisan ini mungkin sangat menyakitkan, tapi inilah bukti. Bahwa sehebat apapun seorang mahasiswa tidak akan pernah diharapkan berlama-lama di kampus. Sebaliknya, dia sangat diharapkan untuk mengembangkan yang sudah dia dapatkan. Bahkan, alangkah lebih baik bila dia kembali ke sekolahnya untuk mengabdikan diri, ya tentu saja setelah dia menggenapkan ilmunya di sekolah yang lebih tinggi.

Apa alasan untuk berlama-lama di kampus? Hingga harus menunggu waktu didepak dari kampus dengan rasa dan nilai kasihan dari apra dosen?

Sulitnya dosen?
Dosen juga manusia. Dia juga punya hati dan pasti dapat diluluhkan dengan bicara baik-baik. Ini pernah dialami kawanku yang kuliah di UPI Bandung.

Susahnya cari bahan?
Tidak ada yang tidak ada di dunia ini. Tuhan menciptakan semua yang ada di langit dan bumi ini agar manusia belajar dan menemukan. Hampir setiap mahasiswa memiliki tingkat kesulitan yang berbeda. Tidak ada yang tidak memungkinkan. Bahkan, bulan saja sudah dijamah manusia.

Sekolah adalah amanah orang tua. Satu tanggung jawab besar yang harus segera kita selesaikan sebelum nyawa sampai di kerongkongan. Apalagi bagi (maha)siswa yang belum bisa mencukupi dirinya sendiri. Sungguh sangat menyakitkan hati saat kita mempermainkan mereka dengan kemalasan kita, dengan kesewenangan kita dalam belajar, dengan semau kita mengerjakan skripsi, dan dengan seenak kita mengatakan “saya sudah berusaha”. Bagaimana kalau orang tua kita pergi, tapi dia tak sempat melihat toga yang kita kenakan? betapa sakitnya ini.

Apakah kita mau menunduk ke bawah betapa banyak anak yang tidak bisa sekolah? Lihat bahwa masih sangat banyak orang yang memimpikan sekolah dengan jenjang tinggi. Namun, kita menyia-nyiakannya seenak kita.

Apakah kita pikir orang beriman akan dibiarkan begitu saja tanpa ujian? Tidak sama sekali tidak. Ujian akan terus bergema di samping kanaN-kiri manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan.
Dan ujian itu salah satunya adalah saat kita mengembangkan sayap untuk terbang di dunia pendidikan.

~sebuah semangat bagiku sendiri untuk terus belajar dan belajar~

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s