Beranda » sokanalitis » kalah=evaluasi

kalah=evaluasi

Euforia Piala AFF sudah berlalu meski masih ada satu dua yang membincangkan. Menurutmu apa faktor kekalahan untuk Tanah Air?

Ada yang mengatakan bahwa ini kesalahan PSSI. Ada juga yang berpendapat karena nasionalisme. Sebab, semua tim dari Negeri Jiran memang full Malaysia. Atau ada juga yang bilang karena faktor mental. Apapun itu sebenarnya tak begitu berarti. Semua memang telah terjadi. Yang seharusnya kita katakan adalah apakah kita akan belajar dari kekalahan ini atau tidak. Indonesia telah beberapa kali bertemu di rumput hijau dengan tim negara asal Siti Nurhaliza itu. Kita pernah kalah, tapi juga pernah menang. Itulah sepak bola. Sebuah permainan yang tak boleh dipermainkan (begitu kata mas kantor teman saya).

Tak jauh dari sepak bola adalah kehidupan kita. Ada banyak faktor yang menggelindingkan hidup. Kadang kita menjadi sayap kanan, sayap kiri, bertindak sebagai kiper, atau bahkan sebagai suporter. Kita bisa menjadi apa saja dalam kehidupan ini.

Ada kalanya kita menang atas sesuatu. Namun, tak jarang kita harus kalah. Dalam berteman, dalam sekolah, bekerja, bahkan dalam menjalin hubungan dengan personal. Kalah bukan berarti sebuah akhir, melainkan sebuah langkah untuk menata strategi dalam melangkah.

Tak dipungkiri kita (terutama saya) kadang takut dengan takdir. Takut Tuhan tidak memberikan yang terbaik untuk kita. Karena itu, saya takut melangkah. Akhirnya, saya stagnan. Mandek. Berhenti di tempat tanpa ada sebuah kemajuan. Itulah sebenarnya yang harus dihindari. Ketakutan bahwa diri kita tak mampu menghadapi kehidupan selanjutnya. Itu semua manusiawi. Sebab, takdir adalah sebuah roda yang tak mampu kita hentikan lajunya.

Seperti halnya sepak bola yang diramalkan si Gudel alias Gurita Dewa Laut di Ancol yang berkali-kali memilih bendera Merah Putih. Kehidupan seakan sebuah permainan yang bisa jadi mudah ditebak. Satu permainan yang bisa diraba hasil akhirnya. Saya tak mengatakan kita boleh datang ke tukang ramal untuk mengetahui kehidupan kita selanjutnya. Saya hanya mengatakan bahwa bisa jadi kita bisa “meraba”. Sebab, hidup ini menggunakan hukum sebab akibat. Saat kita melakukan sesuatu dan membuahkan sesuatu. Kita melanggar lampu merah tentu saja polantas mengejar. akhirnya, kena tilang.

Saat kita jatuh dalam satu hal, maka kita perlu mengevaluasi mencari penyebabnya. Kekalahan bukan berarti bumi ini berhenti berputar. Sebaliknya, dengan sebuah kekalahan kita mampu memaknai sebuah kemenangan.

Mungkin yang perlu kita lakukan sekarang adalah seperti halnya Tim Garuda kita. Mengevaluasi, menata strategi, dan memantapkan langkah. Satu lagi, tidak takut terus mencoba. Itu semua di luar lingkaran ‘takdir’ yang memang kita sama sekali tak berkutik.

Mencoba memberikan yang terbaik dari setiap langkah yang kita lakukan. Belajar dari pengalaman yang memang menjadi guru terbaik kita. Seperti pepatah “tidak jatuh pada lubang yang sama” untuk terus menjalani kehidupan. Cukup sekali jatuh dan tak mengulanginya. Bukankah demikian?

“menanti detik demi detik penghujung salah satu tahun terbaik”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s