Beranda » sastraisme » sosiologi ‘liebe’ sastra

sosiologi ‘liebe’ sastra

Tulisan ini merupakan satu tindak lanjut dari postingan terdahulu. Sosiologi sastra mata kuliah yang satu ini mengingatkan saya pada suasana yang kurang menyenangkan karena pengampu yang “sedikit menyenangkan” heheeheheh….
Suatu kali saya ngobrol dengan teman. Awalnya, kami berbicara sedikit tentang pekerjaan. Namun, lama kelamaan kami membicarakan ‘idola’ kami. Ini mulai dari Rendra, Pram, atau yang lainnya. Nah, satu nama yang ternyata mengingatkan saya pada satu tema besar ini. Siapa lagi kalau bukan Umar Kayam. Yap, betul dia memang ahli antropologi, tapi karyanya juga bisa dimasukkan dalam ranah sosiologi. Tidak hanya dia. Linus Suryadi dengan Pengakuan Pariyem-nya sangat mencerminkan tingkat sosial. Pun demikian dengan Ahmad Tohari dalam Lingkar Tanah dan Lingkar Air. Lantas apa sih sebenarnya Sosiologi Sastra?

Yuhhhuuuuu………..sosiologi sastra merupakan sebagai jenis pendekatan terhadap sastra memiliki paradigma dengan asumsi dan implikasi epistemologis yang berbeda dari yang digariskan teori sastra berdasarkan prinsip otonomi sastra. Penelitian-penelitian sosiologi sastra menghasilkan pandangan bahwa karya sastra adalah ekspresi dan bagian dari masyarakat. Dengan demikian, penelitian ini memiliki keterkaitan dengan jaringan-jaringan sistem dan nilai dalam masyarakat tersebut (Soemanto, 1993; Levin, 1973:56). Sebagai suatu bidang teori, sosiologi sastra dituntut memenuhi persyaratan-persyaratan keilmuan dalam menangani objek sasarannya.

Intinya, teori-teori sosiologi sastra mempersoalkan kaitan antara karya sastra dan ‘kenyataan’. Sebenarnya teori sosiologi sastra inilah yang paling tua usianya dalam sejarah kritik sastra. Faktanya, teori ini sudah dirintis filsafat Plato pada Abad 4–3 SM tentang ‘mimesis’. Namun, teori ini baru dikembangkan Hippolite Taine pada abad 17–18 atau lebih tepatnya pada zaman positivisme ilmiah. Selanjutnya, teori yang salah satunya meneliti tentang pengarang dengan kelas sosialnya, status sosial dan ideologinya, kondisi ekonomi dalam profesinya, serta model pembaca yang ditujunya ini berkembang pesat pada awal abad ke-19 dengan dicanangkannya doktrin Manifesto Komunis oleh Marx dan Engels.

Penelitian sosiologis terhadap sastra menghasilkan pandangan bahwa karya sastra pada posisi tertentu adalah sebuah ekspresi masyarakat dan bagian dari masyarakat itu sendiri. Kenyataan ini menarik perhatian para kritik dan ahli sosiologi sastra untuk memaparkan pola dan model hubungan keterkaitan di antara keduanya. Taine menerangkan, dengan metode-metode ilmu pasti menarik perhatian. Namun, ciri positivistis dalam teorinya menimbulkan permasalahan rumit terkait hakikat karya sastra sebagai karya fiksi. Teori-teori Marxisme yang memandang seni (sastra) sebagai ‘alat perjuangan politik’ terlalu menekankan aspek pragmatis sastra dan mengabaikan anatomi (struktur) karya sastra.

Huft…..beratnya….membicarakan teori. Sementara yang di atas itu belum semuanya disebut. Sebab, masih ada nama George Lukacs yang berpendapat bahwa Sastra adalah Cermin. Nah lho! Dia mengatakan karya sastra, misalnya, novel tidak hanya mencerminkan kenyataan. Sebab, karya sastra lebih dari itu. Fiksi memberikan sebuah refleksi realitas yang lebih besar, lengkap, hidup, dan dinamik yang bisa jadi melampaui pemahaman umum. Sebuah karya sastra tidak hanya mencerminkan fenomena individual secara tertutup, melainkan sebuah proses yang hidup/nyata.

Tidak cukup itu. Masih ada lagi si Bertold Brecht dengan Efek Alienasi-nya. dramawan Jerman ini terkenal sebagai penentang aliran Aristoteles. Dia berpendapat bahwa seorang dramawan wajib menghindari alur yang dihubungkan secara lancar dengan makna dan nilai-nilai universal yang pasti. Fakta-fakta ketidakadilan dan ketidakwajaran perlu dihadirkan untuk mengejutkan dan mengagetkan penonton. Nah, lho!

Masih kurang? Ada lagi mereka yang disebut Aliran Frankfurt, yakni filsafat sosial yang dirintis Horkheimer dan Th W Adorno. Mereka berusaha menggabungkan teori ekonomi sosial Marx dengan psikoanalisis Freud (Teori Freud akan lebih detail pada psikologi sastra). Adorno mengkritik pandangan Lukacs bahwa sastra berbeda dari pemikiran, tidak mempunyai hubungan langsung dengan kenyataan. Akhirnya, akan merujuk pada seni Avant Garde.

Sementara itu, para Neomarxis memanfaatkan filsafat dialektika materialisme Marx untuk mendefinisikan aspek ideologi, politik, dan hubungan ekonomi masyarakat. Secara epistemologis mereka berasumsi sastra menyimpan sejarah yang sebenarnya. Karena itu, hal ini menjadi tugas studi sastra untuk mendefinisikannya secara jelas.

Kaum Neomarxis hanya mengambil ajaran Marx sebagai sumber inspirasi, khususnya dalam hal studi kritik sastra Marxis. Beberapa pengamat memandang Aliran Frankfurt sebagai salah satu bentuk teori Neomarxis. Tokoh-tokoh pentingnya teori ini antara lain Fredric Jameson, Walter Benjamin, Lucien Goldman, dan Th. Adorno.

Nah, anak-anak demikianlah yang dimaksud dengan sosiologi sastra. Ini masih awalan. Sebab, masih banyak yang bisa dijabarkan dari hubungan keduanya. Intinya, sosiologi sastra adalah menelaah karya sastra dari sisi sosial.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s