Beranda » sokanalitis » emansipasi

emansipasi

Ini bukan tentang Hari Kartini. Sebab, April telah lama berlalu dan masih lama pula untuk menunggunya datang. Atau mungkin dikaitkan dengan Hari Ibu yang baru saja berlalu? Entahlah. Apakah karena saya seorang perempuan? Entahlah. Bagi saya, ini hanya tentang perempuan dan kedudukannya. Tak habis kata untuk membahas dia. Seorang perempuan. Di tangannya bumi ini tergenggam. Di embusan nafasnya setiap masa depan tercipta. Sebab, hanya perempuan kuat yang bisa menjadi tonggak untuk orang yang besar.

Insan adalah makhluk yang selalu diliputi dilema. Pilihan-pilihan terus menghinggapi. Satu datang untuk dipilih. Namun, yang lain antre untuk ditunjuk. Manusialah satu-satunya yang bisa memilih. Sebab, selain dia tak akan mampu menentukan keinginan.

Pun dengan masa depan. Bukankah hidup memang sebuah pilihan?

Satu langkah kita pijakan hari ini akan menentukan beribu-ribu hari ke depan. Bahkan, sepanjang hidup kita. Lantas kenapa makhluk bernama perempuan tak berhak memilih!!!!

Selama ini hanya pria yang seakan punya hak untuk menentukan. Sementara mereka tak mengizinkan perempuan untuk menjatuhkan pilihan. Hanya perempuanlah yang bisa menentukan pilihan tidak hanya dengan otak, tapi juga dengan hati. Dia tak hanya memutuskan untuk sebuah kebenaran, tapi juga rasa. Makhluk yang dengan penuh pertimbangan memutuskan sesuatu.

Perempuan hanyalah kalangan minoritas yang tak hanya mendapat sebagian kecil. Sementara itu, tak disadari bahwa perempuan pelengkap bagi sebagian yang lain (laki-laki). Dia hanyalah objek yang dipilih tanpa punya hak memilih. Lantas, bila tak ada yang memilih, apakah dia harus diam? Apakah dia harus menyembunyikan keinginannya? Apakah dia tak boleh berusaha karena dia (sekali lagi) hanya objek? Dengan demikian, dia tak diizinkan memilih dari dua atau tiga yang datang?

TIDAK. SAMA SEKALI TIDAK!

Tidak hanya itu. Perempuan harus tunduk dan patuh. Tidak bagi saya. Suatu kali ketika Ayunda saya menikah (atau ketika saya menghadiri akad nikah) saya melihat bahwa mempelai perempuan harus mencium tangan laki-laki yang sah menjadi suaminya. Kenapa tidak mencium yang lain? Kenapa? Hanya karena itu simbol kepatuhan? Tidak bagi saya. Pernikahan adalah sebuah penyatuan. Satu patuh terhadap yang lain. Tidak hanya seorang istri kepada suami. So kenapa tidak mencium kening misalnya? Atau ekstrem laki-laki yang mencium tangan istri? Kenapa tidak!

Saya menentang semua itu. Dan perempuan adalah makhluk yang sudah selayaknya dihormati, itu memang benar. Dia punya hak untuk memilih. Menggunakan telunjuknya untuk sesuatu yang dia inginkan. Dialah yang duduk setara dengan laki-laki.

Saya teringat dengan kisah Khadijah dan Nabi Muhammad. Betapa perempuan dengan sangat terhormat “menanyakan” seseorang yang dia inginkan. Betapa selama ini kita memberikan coretan hitam bagi seorang perempuan yang menawarkan diri kepada “seseorang”. Ini semua aku rasa tentang KEBERANIAN. Terlalu langka seseorang yang menunjukkan keberaniannya untuk mengajak seseorang mengarungi hidup bersama. Ya tentu saja, ini tidak hanya untuk satu-dua hari, melainkan sepanjang hidup mereka. Lantas apakah alasan materi? Ah saya tidak mengerti.

Lain waktu, saya diajak mendatangi resepsi kawan lama, anggap saja namanya A. Seorang laki-laki yang menurut saya “wow” meski saya tak begitu kenal. Sementara teman yang mengajak saya seorang perempuan yang begitu cantik dan tak ada kekurangan sedikit pun. Keturunan yang oke dan pendidikan yang tak kalah.

Namun, terkejutnya saya ketika perjalanan pulang teman saya yang begitu rupawan menghentikan laju motor kami. Di tepi jalan itu, dia berbalik ke arah saya dan menangis. Ouwalah Gusti ada apa gerangan. Saya membiarkan wajah cantiknya tenggelam dalam pelukan saya. Dalam reda tangisnya saya baru tahu bahwa dia lama menyukai si A. Oh Tuhan sekali lagi, saya menyebut asma Allah yang menguasai segala yang ada di bumi dan langit. Saya berharap tak akan pernah berada di posisi kawan itu. Saya lebih baik mengutarakan segala yang ada dalam segumpal hati saya dari pada akan menyesal seumur hidup. Apapun jawaban yang akan saya dapatkan, itu risiko.

Mungkin yang saya ambil contoh hanya sebagian kecil. Sebab, saya yakin banyak kisah yang berakhir sedih. Sebuah perasaan yang tak diizinkan untuk memilih dan diwajibkan mengubur diri dalam-dalam. Dan berimbaslah ini tentang LUKA.

Seorang lelaki merasa dilukai ketika seorang perempuan punya “sedikit” kesempatan untuk memilih mereka. Dan dia meminta dilupakan karena rasa luka itu. Wuih lha kok mudah menyerah? Mana yang katanya lelaki adalah PEJUANG?

Intinya bahwa tak ada lagi menurut saya sekat itu. Suatu kali bila saya memang telah ingin, saya akan menanyakan kepada seseorang. Tak ada yang salah. Karena itu, saya ingin mengatakan kepada perempuan di seluruh dunia “PILIHLAH YANG KALIAN SUKA!” Dan bila dia tak menerimamu, jangan kau patah hati dan putus asa. Paling tidak kau telah punya keberanian mengungkapkan untuk sebuah hubungan yang dibingkai kebaikan, apalagi kalau bukan PERNIKAHAN. Hargai laki-laki yang hanya berani mengungkapkan perasaannya padamu, tapi tak berani melangkah lebih jauh. Namun, tak ada salahnya jika kau memang mau menunggu. Kau punya hak itu kawan.

Kembali lagi ini adalah sebuah pilihan.
Tentukan pilihanmu untuk sepanjang usiamu.
Memilih bukan berarti merendahkan satu yang tak terpilih.
Semua yang terjadi Tuhan hanya memberikan jalan atas sesuatu di dalam hati
Karena itu, yakinkan hatimu untuk sesuatu yang hendak kau pilih.

::lama waktu untuk bersabar dalam rangka menunggu::

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s