Beranda » filologi » si philo

si philo

Aku mulai kangen dengan yang satu ini. Meski demikian, aku senang karena seorang teman memintaku mengutak-utiknya. NASKAH. Apalagi kalau bukan yang satu ini?

Setiap orang akan mengartikan satu kata di atas. Bagi kawan yang berprofesi sebagai jurnalis, tentu akan mengartikan naskah sebagai sebuah hasil tulisan liputan. Bagi mahasiswa sastra, naskah bisa diartikan sebagai sebuah karya sastra yang hendak di analisis. Beda lagi dengan kawan yang ikut teater, maka naskah adalah dialog-dialog yang siap pentas. Namun, bagi saya. Naskah adalah lembaran-lembaran berisi tulisan kuno dengan huruf melayu atau huruf tradisional lain, misalnya, huruf jawa.

Setiap orang yang melihat saya membaca si naskah ini pasti langsung ‘kaget’. Manusia Purba katanya. Heheeheh so what?

Saya mengakui tidak tiba-tiba saja tertarik pada bidang satu ini. Semua dimulai saat di kelas bahasa ketika kelas 3 SMA. Semua terpupuk sedikit demi sedikit. Satu tahun bergelut dengan membaca aksara melayu yang pating plungker, kemudian saya lanjutkan di bangku kuliah.

Dulu, saya tak tahu bahwa itulah yang disebut filologi. Saya hanya tahu bahwa saya suka. Lantas dari sini saya tahu betapa pentingnya ilmu satu ini. tidak jauh pentingnya dari ilmu kedokteran atau ekonomi. Sebab, dari sinilah sebuah keluhuran budaya suatu bangsa diketahui. Ini mulai dari obat-obatan, sejarah, kisah raja, atau tentang ajaran agama, terutama Islam. Tak jarang karena pentingnya, banyak naskah nusantara kita (Indonesia) ingin dimiliki bangsa lain.

Harus diketahui bahwa naskah atau teks kuno tidak hanya di Indonesia, melainkan juga di belahan dunia lain. Namun, entah kenapa Indonesia-lah yang terkenal. Mungkin karena saking beragamnya. Bagaimana tidak? Kita terdiri atas banyak pulau, berbagai budaya, adat, suku, dan sebagainya. Lantas itu semua yang membuat tiap suku (masa silam) membuat tulisan tentang adat dan budaya mereka. Pun dengan obat-obatan.

Sayangnya, kini mulai jarang generasi muda yang melirik ilmu ini. Mereka lebih suka dengan hukum, ekonomi, kedokteran, dan teknik. Sementara kalau mau tahu bahwa dunia Barat kini tengah berlomba untuk mempelajari budaya kita. Apa jadinya jika pemilik kebudayaan sendiri tak paham?

Sedikit mengenai filologi. Makanan apa sih?
Yaela, ini mah bukan makanan atuh.

“Filologi berasal dari kata dalam bahasa Yunani philos yang berarti “cinta” dan logos yang diartikan “ilmu”. Pada kata “filologi” kedua kata itu membentuk arti “cinta kata” atau “senang bertutur”. Ilmu ini kemudian lebih dikhususkan pada naskah kuno. Seperti halnya manusia, filologi tidak bisa hidup sendiri. Dia akan berdampingan dengan kodikologi. Filologi lebih pada pengkajian isi teks, sedangkan kodikologi pada sejarah atau fisik. Nah, begitulah tentang kecintaan saya terhadap naskah. Lain kali mungkin kita bisa berbicara lebih jauh tentang filologi, naskah, dan kawan-kawannya. Yuhhhuuuyyy…….

Iklan

4 thoughts on “si philo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s