Beranda » sok PUITIS » sisi hati

sisi hati

Syal hitam itu melambai mengikuti simfoni Mozart. Jari-jarinya mantap memegang bow. Hentakan irama itu ikut memacu degup jantung. Di kejauhan aku menatap setiap gerakan angsa putih di tengah kerumunan pasang mata.

Telah lama perilakunya menawan batara dalam diriku. Tak kusangka pertemuan ini terjadi dan aku tiada pernah membayangkannya. Dia datang saat aku tiada dapat lagi berpaling. Meski aku ingin dan mau.

Suasana lengang di antara sekian orang memandangnya. Aku merasa akulah yang berhak melakukannya. Bukan orang lain. Seakan akulah pemiliknya, sedangkan aku tak pernah tahu yang dirasakannya terhadapku. Bahkan, aku tak tahu apakah dia juga seperti aku.

Lamunanku terbang seiring “Ode an die Freude“ yang menyiramku dengan es. Namun, semakin membuatku tersiksa. Seraya aku menyalahkan akan pertemuan kami beberapa bulan terakhir ini. Aku tak meminta. Aku yakin demikian juga dengannya bila dia tahu yang kurasakan sekarang terhadapnya.

Aku berjumpa dengannya setelah mengikat diri dengan yang lain. Dia orang yang kukenal lebih dari lima tahun lalu. Kami dalam satu sekolah asrama yang sungguh luar biasa disiplin. Lantas aku menanyakan pada diri sendiri. Apakah selama ini kami sepasang kekasih? Atau mungkin hanya ‘sekedar’? aku sulit menemukan jalan menuju kebenaran hati. Terlebih setelah aku bertemu dengan dia yang lain.

Tak ada yang lebih istimewa dari dia dibandingkan dia. Walaupun harus aku akui pula ada yang lebih mengena di dasar hatiku yang paling dalam. Seakan dia menggenggamku hanya dengan aku melihatnya. Tak aku dapat menatap utuh bola matanya. Belumlah pernah aku menyentuh sedikit pun ujung kukunya.

Detik berlalu menjadi menit dan terus menerus berputar hingga hari berganti. Tiga puluh hari dalam sebulan dan semua telah berlalu. Aku mendengar dia tertawa. Aku melihat dia tersenyum. Aku menjiwai setiap gesekan violinnya. Dan benar-benar aku merasakan ada gairah hidup yang ternyata telah lama aku lupakan. Semua rutinitas berwarna dan menjanjikan bahwa semua akan baik-baik saja bila aku bersamanya. Sugesti. Mungkin.

Simfoni terakhir akan segera selesai. Nafas ini terasa berat. Lusa, aku tak akan lagi melakukan ini. Tak ada lagi hak untuk memandangnya dan merasakan setiap getaran dalam keceriaannya.

Riuh rendah tepuk tangan menyambut gubahan nadanya di Bastille Day. Malam ini akan kucoba melepaskan segala rasa yang terangkai. Membungkusnya dalam sebuah peti dan tak akan aku buka lagi. Hanya untuk dikenang. Ruangan berpendingin ini menjadikan beku dan sempit logam mulia di jari manisku. Di satu sisi hati terucap tolong maafkan aku.

(10/07/10)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s