Beranda » sok PUITIS » reuni

reuni

Suasana penuh di lobi tempat kami mengambil makan dan minum. Aku sendiri di tempat itu. Semua yang datang mengajak serta istri atau suami mereka. Dan tak lupa buntut-buntut mereka. Riuh rendah suara malaikat-malaikat kecil itu membuatku tertegun sejenak.

Mataku masih jelalatan mencoba menyeruak orang-orang. Aku mencari-cari teman-teman seangkatan. Kami memang janji bertemu di tempat yang ramai itu. Namun, belum ada satu pun yang terlihat batang hidungnya. Bayangkan sekian banyak orang dari angkatan sekian hingga sekian. Sekian kali dua mata.

Aku masih memegang gelas. Dinginnya air itu tak membuatku rileks. Tiba-tiba terasa ada yang memegang kakiku. Sesuatu yang lembut. Seketika itu pula aku menunduk. Dan aku lihat lelaki mungil mencoba berdiri sambil memegang rok panjangku. Keterlaluan sekali orang tua bocah ini. Kuangkat bayi mungil itu.

***
Aku sengaja keluar ruangan untuk mencari angin segar sambil bercanda dengan malaikat kecil yang tadi aku temukan. Aku sandarkan di bahuku bocah bermata indah itu. Aku belai-belai dia dan kutepuk-tepuk. Tertidurlah dia. Mungkin saja dia capek setelah menjelajah ruangan.

Sayup-sayup aku dengar seorang lelaki memanggil nama. Aku menoleh di siang terik itu. Seorang laki-laki dengan paras yang sangat familiar beberapa tahun silam. Sepoi angin meniup daun mahoni. Angin musim kemarau yang panas. Mata itu masih sama.

“Maaf ini anak saya. Bisakah saya ambil?”
Begitu pintanya sambil mengulurkan tangan. Mungkin saja dia tak mengenalku. Yah, aku memang terkesan berubah. Bisa jadi karena tingkat kedewasaanku yang bertambah. Atau memang karena aku telah berubah.

Saat tangannya menyentuh bayi berbulu mata lentik itu bergerak. Dia bersiap-siap menangis. Aku menangkis tangan itu dan kembali menepuk pantat sang malaikat itu. laki-laki itu mengalah. Ia membiarkan aku sedikit menjauh.

Aku duduk di kursi beton di bawah rimbunnya pohon beringin. Laki-laki itu ikut duduk di depanku. Wajahnya mencoba mengingat sosok yang memangku anaknya. Dia lupa. Aku tetap diam.

“Maaf merepotkan Anda,”
tuturnya memulai.

“Oh tak apa. Tadi kebetulan dia merangkak di bawah saya. Jadi, saya gendong dia,” jawabku.

“Bagaimana kabar Anda,”
Tanyanya padaku. Dalam sebuah suasana pertemuan angkatan pertanyaan ini tentu saja hal yang biasa.

“Sangat baik. Anda sendiri?”

Dan sederet pertanyaan wajar yang mengawali perbincangan kami. Pun akhirnya dia mulai menanyakan hal untuk membayar rasa penasaran.

“Sepertinya saya tak asing dengan Anda. Siapa nama Anda? Angkatan berapa?”

Kusebut nama. Dia terperangah dengan nama itu. Saat yang sama dilepaskannya pandangan ke kolam renang.

“Di mana ibunya?”

Aku balik bertanya. Dia diam. Namun, tak lama dia menjawab uraian panjang.

“Dia anak keduaku. Anak pertamaku meninggal beberapa jam setelah dilahirkan karena kekurangan oksigen. Sementara ibunya dijemput Tuhan saat melahirkan bocah kecil ini.”

Aku tak menanggapinya. Aku masih tetap membelai rambut sang malaikat yang setebal rambut ayahnya. Beberapa tahun lalu, aku menghadiri pengucapan janji suci itu. Di usiaku yang belum lengkap seperlima abad. Kejadian itu sudah sangat lama. Kini aku lebih dari seperempat abad. Selepas sekolah strata satu, aku pergi ke luar kota masih dalam rangka menuntut ilmu. Selesai tahap itu, aku ambil tingkat selanjutnya di negeri Wolfgang hingga beberapa tahun.

“Mana anakmu?”

Aku tersenyum dan aku jawab aku belum berpendamping.

Kau terlalu sibuk dengan duniamu sendiri. Kamu sibuk dengan sekolah dan aktivitas organisasimu. Begitu katanya.

Kembali aku tersenyum. Aku hanya belum menemukan yang cocok sejauh ini.

“Apa kurangnya kau untuk seorang lelaki? Tak ada. Kau mungkin yang terlalu memilih,”

Tidak semudah itu ternyata. Bisa jadi banyak temanku. Bisa pula banyak dia-dia lainnya yang datang. Aku lebih memilih untuk tidak menjawabnya.

Ada panggilan di ponselku dan lelaki mengambil malaikat kecil dari pangkuku. Aku tak mencoba menahan. Seperti aku tak menahan ketika undangan merah jambu mendarat di kotak pos depan rumahku bertahun lalu. Aku melepasnya seperti aku melepas kado di depan meja penerima tamu di gedung yang didesain kolonial itu. Aku menyerahkan seperti aku memberikan kecupan manis untuk mempelai wanita di sampingnya.

Sekali aku melangkah dan menatap ke depan, aku tak akan pernah menengok lagi. Tak akan berhenti hingga Tuhan memberiku rem.

Kini, aku menerima konfirmasi untuk kembali ke negeri Adolf Hitler besok pagi.

(8/12/10)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s