Beranda » in Batavia » Terpanah cinta Katedral

Terpanah cinta Katedral

Hari itu Jumat (19/11/10). Libur pekan ini sengaja aku gunakan untuk menikmati kesendirian. Jam menunjukkan pukul 11.00 lewat, ini melebihi yang aku rencanakan. Harusnya jam 09.00 tadi aku sudah oncat dari sarangku. Namun, apa mau dikata, sarang itu menahanku untuk bermalasan. Ting-tong….aku ingat ada janji ke gereja. Harusnya aku datang Rabu. Ini mengingat gereja dibuka untuk umum hanya dua kali sepekan, Rabu dan Jumat. Sementara Rabu kemarin hari besar Nasional. Jadi, satu-satunya hari bertemu ya hari ini.

Di tengah gerimis, aku menunggu metromini arah Pasar Baru. Berharap segera datang si merah itu membawa aku ke salah satu tempat cantik ini. Sekitar 10 menit kemudian, aku telah sampai di halamannya yang dipenuhi tanaman. Sang penjaga agak ragu ketika mempersilakan aku masuk ke dalam gereja. Sebab, museum memang terletak di lantai tiga gereja ini.

Kalau kau pernah membaca lagi-lagi “Mata Kunci” Hella atau Ca Bau Kan karya Remi Silado. Keduanya pernah sedikit menyinggung bangunan gaya neo-gotik nan menawan ini. Bangunan gereja dengan model neo-gotik Eropa ini memang biasa digunakan pada masa itu.

Salah satu gereja cantik di Indonesia ini memiliki nama resmi: Santa Maria Pelindung Diangkat Ke Surga. Kini, gereja yang dirancang dan mulai dibangun oleh Pastor Antonius Dijkmans itu telah berusia 109 tahun alias lebih dari satu abad.

Sedikit sejarah yang aku baca (sebab, katanya kalau cinta mesti tahu latar belakangnya) bahwa gerja yang menjulang itu bukanlah yang asli. Pasalnya, Katedral asli diresmikan pada Februari 1810 dan terbakar pada 27 Juli 1826 terbakar dengan 180 rumah penduduk di sekitarnya. Kemudian, pada 31 Mei 1890 dalam cuaca yang cerah, Gereja itu pun sempat roboh.

Sebenarnya tanah yang digunakan untuk gereja ini awalnya berdiri kediaman panglima tentara Jenderal de Kock. Ketika masuk ke dalam gereja aku berkata dalam hati “Begini mungkin rasanya ya kalau di Eropa sana. Heheeh…..”. Ketika masuk gereja mata langsung dimanjakan dengan keindahan arsitektur yang menawan. Altar gereja dibuat setengah lingkaran. Di dalam ruang utama yang panjang dipasang 6 tiang. Gaya bangunan ini bercorak barok-gotik-klasisisme. Jendela gereja bercorak neogotik. Ada salah satu jendela yang disebut Rozeta. Jendela ini bercorak Rosa Mystica sebagai lambang dari Bunda Maria. Benda ini terletak di atas gerbang utama.
Sementara gereja dari muka tampak bergaya barok, pilaster dan dua gedung kanan kiri bercorak klasisistis. Menara tampak agak pendek dan dihiasi dengan kubah kecil di atasnya. Karena itu, gaya bangunan itu disebut eklektisistis. Nah, apalagi ini saya tak terlalu paham, tapi menurut mata pelajaran Sejarah Kebudayaan saat aku kelas 3 SMA inilah pengaruh bangunan Eropa terhadap bangunan kita terutama untuk gereja Katolik (ingat Pak Wuryanto).

Jadi, kalau kita masuk dari depan (heheheeh….inilah keberuntunganku bisa masuk lewat pintu utama gereja pada suatu Minggu yang cerah) kita akan disambut air suci. Air ini digunakan para jemaat sebelum masuk gereja. Air suci ini juga terdapat di pintu samping sebelah kiri. Di atas pintu utama ini terdapat patung Maria dan ada tulisan Beatam Me Dicentes Omnes’ yang berarti “Semua keturunan menyebut aku bahagia”. Dari pintu utama itu masih ada pintu lagi. Di kanan pintu dalam itu, tepatnya di sudut terdapat Pieta: replika dari karya Michaelangelo yang menggambarkan Maria yang memangku jasad Yesus setelah diturunkan dari salib. Di tempat inilah banyak orang berdoa. Ketika kaki lebih masuk ke dalam kita akan disambut dengan lukisan jalan salib. Lukisan ini dilukis di atas ubin yang dibuat oleh Theo Malkenboet. Selain itu, kita akan melihat Mimbar pengetahuan. Ini adalah sebuah tempat para imam gereja menyampaikan kutbah. Maju ke depan di sebelah kanan kita akan menjumpai orgel. Pipe Orgel ini dibuat di Belgia pada 1988. Yah, satu tahun lebih mudalah dari aku. Dan masih ada beberapa bagian yang aku kurang paham karena begitu detailnya.

Di dalam gereja dengan sekitar 250 bangku jemaat ini terdapat sebuah museum. Museum ini diresmikan pada 28 April 1991. Yang paling menarik adalah Lukisan dari batang pohon pisang karya Kusni Kasdut. Dia adalah Robin Hood-nya Indonesia dan dihukum mati.

Lonceng gereja berdentang dengan keras beriringan dengan Azan di Masjid Istiqlal. Mereka berdua berdampingan hanya terpisah jalan. Sebuah harmonisasi yang patut disyukuri untuk sebuah negara yang sangat plural ini. Lonceng ditarik dengan kekuatan manusia. Ini sangat berbeda dengan lonceng gereja di Eropa yang dengan menekan kayu-kayu penghubung. Lonceng berbunyi 3-6-12. aku terdiam sejenak sambil menikmati alunan lonceng di salah satu menara itu.

Aku berjalan menuruni tangga kayu bersama sukarelawan yang menjaga museum. Saat aku berjalan di karpet merah menuju altar. Para jemaat mempersiapkan pemberkatan yang akan diselenggarakan jam 14.00 WIB. Aku duduk di salah satu kursi menikmati alunan musik pengiring pengantin menuju altar. Di samping kanan-kiriku empat ruang pengakuan dosa.

Selesai alunan musik pengiring aku pun beranjak pergi. Sebab, Mas Indra sang sukarelawan yang menemaniku hendak berdoa di salah satu sudut gereja. Hujan telah reda. Perjalanan hendak aku lanjutkan. Etis tunggu dulu jangan lupa ambil gambar ya!

Iklan

One thought on “Terpanah cinta Katedral

  1. Ping-balik: Gereja “Ijen” Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel #Malang | was indah sagst

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s