Beranda » ceritaku » Aku, Orang Tuaku, Lajang

Aku, Orang Tuaku, Lajang

Hampir setiap malam, ayahanda tercinta mendapat undangan pernikahan tetangga. Maklum musim nikah telah tiba. Hampir di setiap malam itu pula, beliau semangat menceritakan “momen” menghadiri kondangan itu.

“Si R…. teman SD mu yang adiknya Mbak Rn itu besok juga mau nikah lho.”

“Nah, Si D… yang rumahnya dekat Pak … kemarin nikah wah tamunya banyak lho!”

“Tahu tidak, Pak D… anaknya juga nikah tamunya tadi 2.000 walah karang taruna sengkleh….”

“Pak B…. malah mau nikahkan mas dan adik itu lho…. barengan”

“Mbak M…yang kerja di Jakarta juga kemarin Minggu nikah. Undangan se-RT rame banget.”

“Wah kemarin ibu ketemu si Y teman SD mu dulu. Anaknya sudah gede!”

“Besok, giliran Pak S yang mantu. Lha padahal kan umurnya 4 tahun di bawahmu to?”

Jiaaaaahhhhhhhhhhhhh itu-itu-itu terus yang jadi pembahasan akhir-akhir ini dalam pembicaraan jarak jauh.

Belum lagi suatu sore menjelang malam, sang ibunda tercinta tak kalah heboh membicarakan hal satu ini.

“Lha terus kapan mau nyusul teman-temanmu itu? Bapak ibumu ini nanti keburu tua, tapi masih ada tanggung jawab.”

“Lah Bu kan aku pengen sekolah lagi……”

“Sekolah nanti saja kalau sudah nikah. Kan bisa to?”

“Lah memangnya sudah ada orang yang datang ke rumah?”

Saya langsung “nembak” ke ibu saya yang beberapa bulan lalu mendukung saya untuk belajar di salah satu universitas ternama di Indonesia, tapi sekarang berbalik haluan.

“Belum. Lha yo cari dewe!”

“Jiah, lha kalau aku suruh cari sendiri jangan sekarang. Kan masih mau sekolah. Nanti kalau sudah lulus.”

Begitulah kira-kira pembicaraan kami akhir-akhir ini yang tentunya dengan bahasa Jawa. Dulu, paling tidak sampai lulus sekolah sarjana, saya merasa sangat-sangat aman. Sebab, saya masih punya kakak perempuan yang belum melepas masa lajang. Namun, sekarang. Rasanya dunia ini isinya itu saja. Tidak ada pembahasan yang lain.

Sementara itu, di keluarga kami tidak pernah ada istilah jodoh-menjodohkan. Karena itu, saya berani “nembak” ibu saya kalau memang sudah ada “orang” yang datang. Ibu dan ayah saya menikah dengan keinginan sendiri, bukan karena orang tua. Apalagi, dijodohkan. Bahkan, mereka menikah dengan umur yang “lumayan” tertinggal dari teman mereka di masa itu. Namun, entah kenapa akhir-akhir ini mereka getol ngoyak-ngoyak saya. Padahal, beberapa bulan lalu saya sudah mengatakan plan ke depan dan mereka menyetujui.

***
Mengakhiri masa lajang memang bukanlah sesuatu yang mudah. Saya sebenarnya tahu setiap orang tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Ini seperti ibu saya yang kena TREN menikahkan anaknya, takut kalau saya sekolah terlalu tinggi, tak akan ada orang berani datang kepada saya. Memang harus diakui bahwa teman seangkatan saya, teman SD terutama, sudah mengakhiri masa lajang mereka. Bahkan, tak sedikit dari mereka yang sudah momong bocah. Tapi, haruskah saya seperti mereka? Manusia memiliki jalan kehidupan yang berbeda. Terlebih, kedua kakak saya mengakhiri masa lajang ketika memang benar-benar sudah siap. Nah, aku? Tumbal anak bontot.

Apa yang salah dengan menikah di usia ‘matang’? Toh, ketika saya di tempat saya bekerja sekarang saya masih tergolong kecil. Sebab, masih banyak mbak-mbak yang lebih matang dari saya dilihat dari segi usia. Ibu saya langsung nyeletuk “Nah, kalau di rumah kan sudah tidak!” ya iyalah adik sepupu saya yang satu tahun di bawah saya anaknya sudah umur 3 tahun.

Dan di siang yang begitu panas ayahanda via ponsel memberi wejangan
“Kau boleh memikirkan karier dan masa depanmu, tapi jangan lupakan sisi ‘kemanusiaanmu’”
Panas matahari yang menyengat semakin membuat ubun-ubun mendidih heheheh.

Mengakhiri masa lajang alias verheiratet tidak hanya karena SUDAH INGIN. Bukan hanya semata itu. Bagi saya mengakhir masa lajang dan membina hubungan dengan orang lain tidak hanya menyatukan dua orang, melainkan DUA KELUARGA BESAR. Menikah bagi saya juga sebagai pencetak generasi unggul yang nantinya akan memegang tampuk kepemimpinan di masa depan. Meski saya harus mengakui pula bahwa saya hanya perencana. Sementara Sang Penentu hanya Dia semata.

Saya lantas berpikir kenapa seorang laki-laki takut (minder) dengan perempuan yang memiliki tingkat sekolah yang lebih tinggi? Sementara pernikahan merupakan satu wadah penitipan yang harus dibimbing dengan sebaik mungkin untuk masa depan. Dia lah ANAK. Apakah lantas seorang perempuanlah yang harus melamar laki-laki?

Apakah saya adalah seorang FEMINIS atau penganut FEMINISME ketika saya akan lebih mengedepankan sekolah?

Jawaban saya TIDAK. Saya bukan tidak tahu hukum dalam agama saya yang mengatur bahwa penikahan bisa menjadi wajib, sunah, makruh, bahkan haram.
Justru sebaliknya, saya menginginkan yang terbaik untuk anak-anak saya. Saya ingin dari mulut saya mereka belajar. Kami bisa bermain dan belajar bersama setiap hari. Saya sangat tidak mengharapkan mereka masuk boarding school atau pesantren. Karena itu, saya harus pandai agar mereka dapat diandalkan di kemudian hari. Terutama menjadi pemimpin bagi diri mereka sendiri.

***
“Ind…mbok pulang to! Bapak-ibu kangen lho.”
Kakak perempuan saya membujuk saya untuk pulang tadi pagi waktu saya telepon.

Saya jawab, (meski sebenarnya saya ada rencana akan pulang bulan ini)

“Emoh…males aku! Paling mau bicara yang itu lagi!”

“Lha tumben kok emoh. Iya kalau pulang rencananya mau ada konperesi meja kotak.”

“Aku mau pulang kalau tidak ngomongin itu lagi!”

“Heheheh tidak pulang lha pak sama buk mau ke sana. Sama saja to, ditanya yang sama.”

JIIIAAAAAAHHHHHH

Jadi, rencana ayah dan ibu saya menjenguk saya jauh-jauh ke sini pertengahan atau akhir bulan ini, setelah road show ke dua kota anaknya yang lain, selain untuk melepas kangen ternyata untuk satu misi yang mereka masih belum mau menyerah.

Yah, saya hanya berdoa semoga sindrom nguber-uber itu segera berakhir. Kalau tidak jangan salahkan saya kalau tidak mau pulang heheheheh ^_^

Iklan

6 thoughts on “Aku, Orang Tuaku, Lajang

  1. “Sisi kemanusiaan” dipikirkan bukan berarti harus segera kan? Tapi bukan berarti juga mesti lama-lama kalau memang bisa segera. Kalau menurutku sih enjoy aja ke rencana lanjut studi itu sambil tetap membuka peluang tuk yang satu itu, bisa nikah di tengah jalan atau di ujung jalan. Aku nikah dengan istri juga pas dia dah di S-2, di ujungnya.

    Eh, kok, aku sok serius kasih nasihat sih (keluar karakter aslinya.. he he).

    • iya ya pak bachtiar, tetap berencana sekolah sekalian cari-cari yang pas….yah kalau memang pas sekolah dianya datang boleh juga…siapa tahu bisa bantu tugas akhir ehehehehhe (sekali mendayung 2-3 pulau terlampuai)….wah boleh juga tuh minta resep dari istri pak bach biar tak keteteran sekolahnya uhhuuyyyy

  2. hmmm, ceritanya curcol nih.. 🙂
    An rasa ini bukan masalah kesiapan, soalnya kl ditanya siap atau ndak mesti bilangnya belum siap. Kaya ditanya, dah siap menghadap Illahi ? pasti jawabnya belum siap. ^^
    Yang penting persiapan jalan terus, kita g tau kapan hari itu tiba…..
    OK, Indah semangat terus !! 🙂

    • lho sar, aku kan tidak bilang belum atau tidak siap. ini mungkin lebih pada prioritas. bukankan seburuk-buruknya rencana adalah lebih baik dari pada tidak sama sekali? heehehehh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s