Beranda » sok PUITIS » Kemuning Mengering

Kemuning Mengering

Hati ini kehilangan arah bagai nelayan yang kehilangan mata angin. Aku seperti harimau betina yang diganggu anaknya. meraung penuh kebencian. Satu sisi ingin rasanya mencaci. Menumpahkan kekecewaan dan kekesalan dalam hati yang selama ini diam. Tuhan ini kah rasa kecewa. Rasa sakit hati yang terdalam dari seorang manusia? Aku termenung dan tak kuasa lagi mengucap sesuatu. Aku seakan hidup dalam diri yang bukan aku. Aku seakan dihantam godam terbesar di seluruh tubuhku hingga aku remuk. Tulangku hancur berantakan.

Angin mendesir. Menusuk ke dalam relung raga terdalam. Kabar itu tak ubahnya petir yang tak hanya menggelegar, tapi juga membakar mangsanya. Debu membentang hingga ujung terkecil.

Aku menanyakan padamu. Di mana kau yang pernah mencintaiku? Di mana kau yang pernah mengajari kata cinta padaku? Kau yang pernah menabur benih kasih dan cinta dalam darah dan nafasku. Namun, kau mengambil semuanya. Dan menanam benih cinta di hati yang lain. Bukankah kau yang memberiku api cinta yang menggebu? Namun, kau kini memintaku memadamkannya. Kau yang dulu pernah mempertanyakan kesetiaanku padamu. Sementara kini kau mengkhianatinya. Kau yang tak percaya bahwa aku mampu belajar memberikan hati setulus yang aku mampu. Namun, ternyata kau tak hanya menyia-nyiakannya. Kau bahkan membuangnya.

Kau pernah berkata saat itu bahwa kita belumlah bisa mengarungi hidup bersama. Aku bisa memahami posisi sulit itu. Kita menanti masa studi berakhir. Kau memang masih menanti, tapi ternyata bukan aku. Seseorang itu bukan gadis yang pernah kau janjikan dulu. Kau memang telah menyelesaikan waktu belajarmu, pun dengan aku. Namun, kau datang dengan seseorang yang lain.

Tuhaaaaaannnnnnnnnnn…………!!!!!!!!!!!!!!!
Aku ingin memberontak dan menggelegarkan suara ini. Meneriakkan yang menyakiti hati. Dia makhlukMu yang telah menyakitiku. Dia yang telah aku tunggu bertahun sembari merajut rasa yang telah dia ajarkan. Tuhan sungguh adilkah ini? Tahukah dia bahwa aku telah mengurung diri dari orang yang datang padaku hanya untuk dia?

Aku bodoh Tuhan. Aku perempuan yang telah memakan bangku sekolah. Aku seorang akademis yang telah mondar-mandir di dunia penelitian, Aku hambaMu yang telah Kau anugerahi kepandaian. Namun, ternyata aku telah dibodohi. Aku telah terbentur dengan janji semu yang lebih menyakitkan dari sekadar ditolak beasiswa luar negeri.

Aku yang telah menunggumu. Aku yang telah kau ajarkan cinta. Aku yang telah setia menanti. Aku yang mencoba memberi pengertian pada setiap orang yang datang bahwa aku tengah menantikan seseorang.

Aku terhanyut dalam janjimu. Aku yang telah mencoba belajar. Tak ada air mata. Sebab, air mata ini telah mengering saat aku merindui dan menunggumu. Air mata ini telah habis dalam masa penantian yang ternyata kau balas dengan pengingkaran janji. Kini aku, hati, dan cintaku hanyalah kemuning mengering.

“Tuhan lindungi kami dalam cinta semu, hanya cintaMu-lah yang tak pernah ingkar”

Iklan

4 thoughts on “Kemuning Mengering

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s