Beranda » sokanalitis » aku, kau, dan kawanku

aku, kau, dan kawanku

Aku sebenarnya malas untuk bertemu dengannya. Namun, aku tetap menghargainya. “Tolonglah aku sekali ini. Aku hanya ingin bertemu denganmu. Mungkin yang terakhir kali.” Begitu kira-kira pesan singkat yang dikirimkannya padaku dua hari lalu. Aku tidak mencoba menghindar. Aku hanya mencoba untuk mempertahankan diri.

Aku memang telah lama hidup di kota yang penuh hingar-bingar ini. Aku berusaha menutup setiap jengkal kenangan yang menyumbat denyut nadi. Tuhan ini jalan yang Kau tunjukkan. Aku tak menyesal. Ini sebuah pilihan.

Di luar terlihat sangat dingin. Orang bergegas dengan payung warna-warni. Langkah mereka besar-besar memburu waktu yang tak kenal kemalasan. Sementara aku di dalam ruang terasa sangat panas. Aura tak baik ini membungkam alat pendingin sehingga tak mampu bekerja baik untukku.

Warna hijau cat tembok semakin menggambarkan kesuraman. Aku masih melihat ke arah jalanan. Aku merasa tak ada kata yang cocok untuk memulai pembicaraan. Sebab, aku memang tak menginginkannya. Bukankah dia yang mengajak aku bertemu untuk berbicara?

Sepekan itu adalah waktu yang tersisa. Aku tidak bermaksud memberikan harapan untuknya. Sebab, aku merasa tak pernah memberikan harapan sama sekali.

Aku bisa membayangkan dia mengucapkan perjanjian yang diibaratkan dengan memanggul gunung di atas pundaknya. Mengucapkan janji untuk setia kepada seseorang yang ada di sampingnya. Aku tak bisa membayangkan bahwa orang itu adalah temanku.

Apakah lantas aku merasa kecewa dengan posisiku dan posisinya sekarang? Tidak. Aku katakan tidak untuk diriku sendiri. Aku rasa sejak awal memang kami tak pernah cocok. Aku bukan orang yang lemah lembut dan bertutur halus. Aku gahar dan kreak. Bagaimana aku harus berdampingan dengan seseorang yang halus sepertinya.

Aku membutuhkan seseorang yang bisa menaklukkanku. Orang yang bisa mematahkan semua argumentasi dan pendapatku. Orang yang bisa menenangkan aku di kala aku gundah. Apakah aku terlalu memilih? Aku rasa tidak. Aku butuh seseorang yang mau memperjuangkanku, FIGHT. Orang yang tidak berhenti dan mengatakan “bahwa ini adalah jalan Tuhan, ini adalah takdir Tuhan”. Tidak Tuhan tidak akan mengubah apapun untuk hamba-Nya yang tak mau berusaha. Apakah kau adalah orang itu?

Cinta. Aku memang tak mengerti. Yang jelas dan harus kau tahu bahwa aku tidak akan membiarkan diriku diperbudak kata lima huruf itu. Akulah pengendali kapan aku harus mencintai dan kapan aku harus berhenti. Dan kau tahu bahwa masalah terbesar bagi umat manusia adalah mengetahui kapan dia harus memulai dan menghentikan sesuatu. Jika saat ini aku mau, aku akan mencintai. Siapa pun itu.

Kau mengatakan bahwa kau mencintaiku hanya karena kata-kata yang aku rangkai. Hanya karena sikap yang kau lihat tegar. Saat tangan ini tak mampu lagi menulis, kau tak akan mencintaiku lagi. Saat aku mulai jatuh dan tenggelam dalam diri yang tak lagi tegar. Kau tak akan mencintaiku lagi. Aku hanya ingin seseorang yang mencintaiku karena seluruh yang aku miliki. Mencintaiku dengan segala kelemahan dan kekuranganku. Bukan karena yang kau lihat. Bukan karena yang kau dengar. Apalagi yang tak pernah kau lihat dan temui sebelumnya. Bisa jadi ini hanya sebentar kau rasakan. Sementara sudah ada seseorang yang menanti di sana. Dia, kawanku.

*Jagalah kawanku sebagai sahabat terbaik dalam hidupmu*

***

Dia duduk di hadapanku. Seorang perempuan setegar mamaku. Perempuan yang menyimpan sisi keanggunan di balik keteguhannya. Bulu mata lentik itu di batasi lensa kaca mata. Terlalu indah untuk aku lepaskan ciptaan Tuhan yang satu ini.

Aku lebih memilih menyebutmu sebagai perempuan bukan wanita. Sebab, empu berarti ‘tuan’. Kaulah tuan yang bertahta dalam diri seorang lelaki. Perempuan kata yang berhubungan dengan sebuah sokongan dan penjaga keselamatan. Sebab, aku yakin kau mampu menjadi sebuah penyangga dan penjaga bagi keluarga yang akan kau bangun nantinya. Kau benar-benar perempuan, empuan, bahwa pantas untuk aku hormati dengan sebutan ini. Kau bukan wanita dalam yang selalu bisa ditata diatur semaunya tanpa dasar. Ah kaulah perempuan itu. Betapa beruntungnya seseorang yang akan memiliki penyokong sekuat dirimu.

Namun, aku tak lagi punya kesempatan. Harapan untuk mendapatkan yang sebenarnya ingin aku kejar. 477km jarak yang aku tempuh untuk menemuinya. Kami belum bicara sedikitpun, meski kopi masing-masing telah dingin diembus
ac yang semakin mencekikku.

Sepekan. Itu hanya tujuh hari dari sekarang. Aku telah memutuskan sesuatu dan itu adalah takdir Tuhan untukku. Mungkin dengan seperti ini orang di sekitarku akan merasa bahagia. Tujuh hari=168jam= dan entah sekian detik lagi. Aku berharap Tuhan membelokkan takdir ini. Namun, itu hanya 1% saat kau mengatakan bahwa kau menerimaku. Apakah lantas aku akan bisa meninggalkan dia?

Kenyataan tidak demikian. Kau memang tak akan pernah mengucapkan itu. meski keberadaanku di sini sekarang adalah mengharap masih ada kesempatan untukku. Aku harus jujur bahwa kedatanganku tak lebih untuk memastikan bahwa dia tak lagi memberikan kesempatan untukku.

Aku memang tak pantas untuk mendapatkanmu wahai perempuan yang menawan. Aku tak bisa berjuang untuk mendapatkanmu. Aku bukan tipe pejuang yang bisa menaklukkanmu. Akulah yang kau taklukkan. Akulah yang justru perlu kau tenangkan.

Aku tak hanya mencintaimu karena kata. Aku melihatmu sebagai sebuah kekuatan yang terus terpancar selama matari masih bersinar. Aku terus merinduimu hingga hancur waktu itu. Aku yang belum bisa mengendalikannya seperti kau. Aku tidak tahu apakah ini hanya sebentar. Aku juga tidak bisa mengukur apakah ini dalam hingga aku masih bisa merasakan getarannya bila dia yang lain telah hadir dalam hidupku?

*mama maafkan aku yang tak bisa membawanya ke hadapanmu*

Iklan

6 thoughts on “aku, kau, dan kawanku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s