Beranda » sastraisme » puisi

puisi

Kau katakan “selamat jalan” seakan aku akan pergi meninggalkan dunia dan menutup mata untuk selamanya. Tidak sama sekali. Aku tak pergi sedikit pun darimu. Aku ada tetap di tempat yang sama. Bila suatu hari kau membutuhkan aku, kau tahu di mana harus mencariku. Meski aku pernah undur diri.

Aku yakin kau KUAT dengan riak kecil ini. Aku tahu kau akan terus BANGKIT dari keterpurukan yang tak seberapa ini. Dan aku mahfum bila kau merasa memiliki RASA ini. Karena itu, jadikanlah rasa ini sebagai semangatmu.

Aku tak pernah melarangmu untuk mengingatku. Aku tak pernah memintamu untuk melupakanku. Sejak kau membuka mata di ambang fajar hingga kau kembali ke peraduan. Saat waktu berdentang dan Dia memanggilmu untuk menghadap-Nya. Saat mentari hangat menyinari bumi hingga dia pulang ke kerajaannya dan digantikan bulan yang malu menelusur malam. Kapan pun kau mau mengingatku. Mengenang semuanya.

Teruslah menulis. Tuangkan hatimu dalam lembar-lembar putih itu. Larik-larik itu akan tetap indah dengan atau tanpa aku. Tetaplah warnai dunia dengan penamu. Meski puisi-puisi itu ternyata hanya untuk satu nama. Tatap lantang yang ada di depanmu dengan senyuman.

Jangan kau tanya akankah aku kembali. Tentu aku akan kembali. Dapat kau pegang janjiku ini. Dapat kau ikat seerat mungkin. Kan kembali kutemani kau mencoretkan setiap kata yang kau rangkai. Kita akan menulis bersama lagi. Habiskan waktu menyusun baris demi baris. Akan kita lewati semuanya.

Sedikit tentang lirik lagu jikustik “Puisi”

#Tuhan kuatkanlah hati kami, serahkan semuanya#

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s