Beranda » sok PUITIS » fenomena

fenomena

siang ini. Langit Jakarta mengguncang. Dia menangis. Memberi kejutan yang menggelegar. Gelap dan mencekam. Seakan suara itu berada tepat di atas kepalaku. Dia seakan mengerti bahwa aku dalam keadaan yang sama dengannya. Dia membantuku meredam sakit dan jeritan.

Lamunan. Menghabisiku dalam hitungan hari, bahkan jam. Kelebat bayang itu semakin hadir saat aku sudah hendak melupakannya. Sikap yang membingungkan dari segumpal darah bernama hati. Setiap ada kekuatan aku untuk melupakan. Saat itu lah dia datang. Saat aku membawa dia dalam perjalanan hidup yang kuasi ini. Dia mengajarkan berbagai keindahan di dunia yang fana.

Perpisahan dan perceraian adalah satu jalan terbaik untuk mengenal sekaligus melupakan seseorang. Aku terlanjur memiliki rasa ini dan dia mengetahuinya. Dia mengetahuinya. Dan aku kalah. Kalah pada diriku sendiri. Kalah pada pesonanya. Apakah ini kasih semu? Rasa kasih yang hanya sekejap saja dan akan berakhir dengan seketika saat aku telah menemukan pesona yang baru dan lebih baik? PESONA.

Dia hantu. Selalu menghantuiku. Dia hantu dari jenis yang tak takut sinar matahari seperti drakula atau vampir. Atau pocong? Jenis hantu Jawa yang pernah aku kenalkan padanya. Karena itu, dia muncul kapan pun yang dia mau. Siang, malam. Pagi buta saat aku bangun. Di kereta. Di ruangan. Di keramaian, apalagi di kesepian yang lebih sering mendera.

Luka, air mata, dan kegelisahan adalah satu paket yang tak bisa aku pisahkan satu per satu. Dia adalah satu rangkaian seperti lokomotif dan gerbong.

Suatu kali. Bila dia dimiliki seseorang. Dan itu bukan aku. Paling tidak dia sudah tahu bahwa aku pernah gila merindunya. Aku pernah menjadikan siangku sebagai malam dan sebaliknya hanya karena mengingatnya. Paling tidak dia tahu bahwa aku “sedikit” (atau banyak ini ada dalam hukum relativitas) mengharapkannya. Jadwalku berantakan karena tak ada konsentrasiku.

Hari ini aku ingin katakan pada bumi yang di atasnya tumbuh bunga-bunga indah. Aku ingin katakan pada Merapi yang batuk. Aku ingin menyampaikan pada langit yang terus meneteskan bulir sedih. Bahwa aku MENANG sekaligus KALAH hari ini. Bahwa aku mampu ternyata mengungkapkan yang tak pernah aku rasakan sebelumnya. Meski aku kalah karena aku tak akan mampu memilikinya saat ini.

Aku menjadi lemah dan rapuh atas janji cinta.
Cinta yang bukan hanya sekadar KATA.

CINTA YANG SEBENARNYA TAK AKAN PERNAH BERAKHIR BAHAGIA.
SEBAB, CINTA YANG SESUNGGUHNYA TAK AKAN PERNAH BERAKHIR

*izinkan hati untuk belajar*

Iklan

One thought on “fenomena

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s