Beranda » sokanalitis » PAHLAWAN yang TERLUPAKAN

PAHLAWAN yang TERLUPAKAN

Surabaya, 10 November, dan pahlawan, memang tak dapat dipisahkan. Namun, peringatan Hari Pahlawan kali ini tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, tugu pahlawan sedikit tersisihkan. Ramai-ramai mengajukan gelar pahlawan tenggelam dengan hiruk-pikuknya berita. Pasalnya, Tanah Air kita disambut dengan berbagai gegap gempita. Ini mulai dari rintih tangis, kesedihan, ratapan, di beberapa daerah hingga riuh rendah penyambutan orang nomor satu di Amerika serikat.

Sebulan lalu, tepatnya pada Senin 4 Oktober 2010, daerah cantik di ufuk timur Indonesia tertimpa kedukaan untuk ke sekian kalinya. Wasior, nama kota itu. Ratusan rumah warga rusak parah dan seketika kota di Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat, itu mati. Pagi itu tentu banyak yang tak menyangka. Saat burung-burung masih berkicau justru air setinggi tiga meter itu meratakan permukiman warga. Banjir yang menerjang itu datang sekitar pukul 07.00 WIT. Dari musibah ini diperkirakan lebih dari 100 orang tewas.

Masih dalam bulan yang sama, tepatnya pada 25 Oktober 2010, Bumi Pertiwi kembali diguncang. Kali ini musibah menimpa Pulau Mentawai, Sumatera Barat. Gempa berkekuatan 7,2 Skala Richter itu diikuti tsunami. Pada bencana ini diperkirakan lebih dari 300 korban tewas, 412 orang hilang, dan 15 luka berat. Selain itu, lebih dari 4.000 warga mengungsi.

Tak cukup itu. gunung-gunung berapi di Indonesia juga seakan berjanji mengadakan reuni. Mereka berduyun-duyun bertemu dalam pertemuan. Kali ini yang Merapi yang menjadi pemimpin. Jumat, 24 Oktober 2010, status Merapi meningkat menjadi waspada. Merapi batuk. Dia bersin-bersin dan mengeluarkan “lendir” yang mematikan bagi yang terkena.

Pada 31/10 energi mencapai 231.821 RSAM Unit/1000. Pada 1 November letusan terjadi. Jumlah korban tewas pun diperkirakan lebih dari 150 orang. Salah satunya adalah sosok fenomena Mbah Maridjan yang meninggal pada 27/10 di rumahnya dengan posisi bersujud. Hingga kini (10/11) Merapi terus bergejolak.

Di sisi lain, kemarin (9/11), Negara ini disibukkan dengan penyambutan orang nomor satu di USA beserta sang istri dan rombongan. Dengan pesawat dan mobil pribadi sang Presiden negara adidaya itu membuat pemerintah Indonesia “MENGUSIR” bajaj di ibu kota. Pantas saja pria yang mengaku suka bakso dan nasi goreng itu mengatakan bahwa Indonesia tidak macet lagi. Tidak cukup itu, beberapa kawasan harus ditutup termasuk akses menuju UI. Karena itu, teman-teman kantor saya: para abang yang rumahnya Depok dan Bogor alhasil tak bisa pulang (katanya). Iya lah, jam 9 malam sudah ditutup, padahal kami selesai jam 00.00. Memang sih bapak satu ini tidak seperti George W Bush yang membuat Indonesia mati-matian membabat habis bunga di Kebun Raya Bogor untuk membangun heliped. Namun, tetap saja berapa rupiah yang harus hilang karena kedatangannya.

Yah begitulah peringatan Hari Pahlawan 2010. Nama pahlawan yang dielu-elukan. Sudiro husodo, Ki Hadjar Dewantara, Supriyadi, Bung Tomo, I Gusti Gurah Rai, Diponegoro, Kartini, Dewi Sartika, Cut Nyak Dien, dan berjuta nama berderet telah lama terhapuskan dan tersingkirkan.

Jas merah. Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Kini kalimat dari Sang Proklamator ini hanya sekadar kalimat. Tak lagi anak bangsa tahu maknanya, mungkin saya termasuk di dalamnya. PAHLAWAN…begitu luar biasa, tapi melupakannya adalah hal yang biasa.

SELAMAT HARI PAHLAWAN

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s