Beranda » sok PUITIS » ketenangan semu

ketenangan semu

Kami duduk dalam satu bangku. Gerimis riwis-riwis menghiasi langit yang makin temaram. Kami duduk tanpa bicara. Ini mungkin karena kami memang tak kenal. Atau lebih tepat kami merasa sok tidak kenal. The Zahir digenggamnya. Sebuah perbedaan dari semua teman perempuan yang pernah aku kenal. Dalam organisasi kampusku dulu, mereka yang melulu berkutat pada bacaan haroki atau seputar pernikahan. Dia, setahuku, berwawasan luas dan mempelajari apa yang ingin diketahuinya. Menghabiskan waktu untuk menjawab pertanyaan yang muncul dalam benaknya.

Sok tidak kenal. Aku tertawa kecil dengan diksiku ini. Pilihan kata yang menggelikan sekaligus mengingatkan pada masa-masa itu. Dia tetap diam. Membaca atau pura-pura membaca untuk membunuh waktu. Dia terus menunduk sesekali memandang ke depan. Menikmati orang yang berlalu lalang di tengah rerintiknya hujan.

Aku diam seiring kediamannya. Aku dulu, satu tahun lebih yang lalu, sempat dikenalnya: MUNGKIN. Atau aku yang merasa sok mengenalnya. Lebih dari satu kali kami pernah berbincang dalam dunia maya. Dunia yang diciptakan anak manusia. Dunia yang semakin mendekatkan orang yang dulu jauh dan menjauhkan orang yang dulu dekat. Dunia yang membuat saudara seperti orang asing dan orang asing seperti saudara. Sebuah dunia yang menjungkirbalikkan kehidupan manusia. Tak terkecuali aku. Dan mungkin juga dia.

Kami hanya berdua. Aku mencoba dan ingin memulai berbincang kali ini bukan lewat dunia maya yang aku tutup aksesnya. Aku ingin mengawali dengan nyata. Bahwa sesungguhnya aku ada, seperti halnya dia ada. Bahwa aku hadir dalam derap yang tak terlihat.

Aku menemukannya. Dia masih seperti apa yang pernah dia katakan padaku. Dia menutup diri dan tertutup di dunia nyata. Apalagi dengan seseorang yang belum dikenalnya. Itulah pengakuannya. Pengakuan yang akhirnya aku buktikan sendiri di depan mataku. Kali ini, aku memang tidak menemukan keceriaan. Namun, aku tetap mendapatkan keteduhan mata yang pernah aku bayangkan sebelumnya.

Tak jarang dia membenarkan letak kaca mata dengan frame hitam yang cocok dengan wajahnya. Rahang kuat menandakan ia yang memang tak mudah tergoyahkan. Setiap keinginan tak bisa dibendung selama dia bisa melakukannya. Itu yang tak aku temukan di diri yang lain. Mungkin tak akan pernah ada dan tak pernah bisa aku temukan.

Kali ini aku memberanikan diri. Aku memencet nomor yang telah aku hafal selama ini. Walau tak pernah lagi akhir-akhir ini aku gunakan. Nomor yang hampir sesuai dengan tanggal kelahirannya. Kotak kecil sosok di sampingku berdering. Aku gugup menunggu yang akan terjadi. Apakah dia aku mengacuhkannya? Apakah sebaliknya dia tak memedulikannya. Degup jantung membuncah.

Tak lama. Diangkatnya kotak kecil itu. Tanpa melihat nama. Terucap kata “halo” dari bibirnya.

“Menunggu hujan?”

“Reda.”
Ekor matanya seketika mengarah padaku. Detak jantung yang menggebu kini berubah menjadi ombak yang tak tentu arah. Seperti air yang menggejolak terbawa badai. Tsunami. Perlahan diturunkannya ponsel itu. Semakin dalam dia menundukkan wajahnya. Sementara hujan di luar semakin lebat. Burai airnya membasahi seluruh tempat kami duduk.

“Bagaimana kabarmu?”

Aku memulai dengan kalimat biasa, tapi sulit keluar dari kerongkonganku. Kalimat yang seharusnya lancar aku katakan kepada orang lain. Semestinya, tapi ternyata tidak. Kalimat itu seakan tersekat. Ada di dalam diri yang menghalanginya. Aku masih menunggu jawabannya. Ditutupnya Paulo.

“Baik.”

Jawabannya singkat dan sangat lirih. Suaranya terbawa angin. Hampir-hampir aku tak dapat menangkapnya.

“Kau tak mengenaliku rupanya.”
Aku mencoba menambah kalimat. Aku berharap dengan ini akan terbuka jalan pembicaraan kami seperti waktu dulu. Seperti saat kadang kami tertawa bersama.

Dia tersenyum kali ini memandang ke depan. Tak segera ditanggapinya kalimatku. Jari-jarinya mempermainkan lembar-lembar di buku bersampul putih itu.

“Ya. Aku tak tahu itu kau. Kau…bagaimana aku tahu itu kau jika kita memang belum pernah bertemu?”

“Kau bukan tak tahu aku. Tapi, kau mencoba tak mengetahuiku.”
Aku mencoba mencari kebenaran atas naluriku sendiri.

“Mungkin. Aku bersusah-payah menghapus semuanya. Dan kini, kau tiba-tiba muncul.”

“Ternyata memang seperti yang dulu pernah aku bilang samamu bahwa aku ada hanya untuk mengganggu kehidupanmu. Menyesal aku membuka yang tak ingin kau ingat.”

“Tak perlu itu. Tak ada yang perlu disesalkan. Aku tak tahu. Dan seperti biasa aku membiarkannya mengalir.”

“Ya kau membiarkan mengalir, tapi lebih tepatnya kau membiarkannya pergi.”

“Kau mengatakan seperti itu seakan aku yang membuat semua menjadi seperti ini. Apakah kau tak ingat bahwa kau yang sekonyong-konyong pergi dariku? Membawa semuanya! Dan kau tahu aku telah mencoba mempertahankannya.”

Dia menatapku kali ini. Menghancurkan bentengku. Matanya tajam. Tak aku temukan lagi mata teduh di awal tadi. Dia menyala bagai bara terkena angin. Sekam yang memerah menggejolak. Aku tak mampu menatap matanya yang mencari jawaban atas diriku.

Aku diam. Kali ini aku tak bisa menjawabnya. Aku memang melakukannya. Dia memberiku isyarat membatasi, tapi aku pergi. Meninggalkannya. Kini, seakan aku dilucutinya.

Senja kelabu makin terasa. Buana basah. Tapi, aku mengering. Kaku dalam diriku sendiri. Mencari kata untuk merangkai kalimat yang tepat dan pas. Aku harap detik demi detik tak akan berakhir. Biar kebersamaan ini panjang, sepanjang Anyer–Panarukan. Kami kembali lagi terdiam.

“Kenapa kau tak menjawabnya?”

“Kau…kau datang dan pergi begitu saja dalam kehidupanku. Kau hadir membawa banyak perubahan dalam diriku. Banyak yang telah aku rasa berbeda dalam melihat sesuatu. Kau-kau ahhhh aku tak tahu lagi. Aku tak mampu lagi menjelaskan padamu. Tapi semua telah berlalu bukan?”

“Ya semua selesai.”

“Aku kehilanganmu sejak itu. Mencoba mencari inspirasi dari semua, tapi tak seperti aku dapat darimu. Kau tahu sebenarnya aku tak ingin kau pergi saat itu. Aku tahu aku akan merasa sendiri. Banyak yang aku dapat darimu. Kau pernah membuatku tertawa. Aku pernah sedih. Aku merasa kau ajari banyak hal tentang rasa tanpa kau gurui. Setiap kata dan kalimat yang hadir. Dan tentang dosa…biarlah hanya Tuhan yang menilainya.”

Kalimatku putus-putus. Selambat irama gamelan jawa yang mengalun merdu.

“Aku tak menyesal mengambil keputusan pergi darimu. Aku justru bersyukur kau pergi meninggalkanku. Meski harus diakui, ada keresahan diri dalam tiap langkah yang harus dijalani. Tapi, ternyata aku mampu bukan. Meski tanpamu dan tak akan menunggu.”

Aku masih diam. Dia setegar dalam bayanganku. Dia tetap berbicara dalam nada datar yang justru aku sendiri tak mampu menguasainya. Dia kembali teduh dan syahdu setelah sejenak kulihat kobaran api kemarahan.

“Aku adalah seperti aku yang kau tahu. Aku tak ada istimewa seperti yang kau bayangkan. Aku menjawab pertanyaanmu tentang luka. Waktu membantuku. Aku yang ada di depanmu inilah jawabannya. Apakah kau menemukan ketidaksukaanku padamu? Atau kau menemukan sebuah dendam? Permusuhan? Oh semoga tidak sama sekali. Kita memang tidak pernah merasa berdamai karena memang tidak ada seorang penghubung, itu bisa jadi. Tapi, aku merasa damai hanya diberikan oleh waktu. Masing-masing dari kita tidak saling mengenal dan itu terjadi hingga kini bukan. Aku sekali lagi membiarkannya mengalir. Membebaskan setiap rasa yang menghampiri untuk berkunjung satu per satu dalam kehidupanku. Kau hadir dalam lembar sejarah yang tak akan mungkin terhapus. Sebab, dia tak aku tulis di atas pasir. Dia ada di sini. Di hati. Aku tak akan lagi menanyakan siapa kita, aku dan kau. Dulu, kata maaf sering kali menghampiri kita. Namun, sekarang biarkan semua mengalir seperti air itu. Bila kau inginkan lebih, berusahalah untuk mendapatkannya. Jangan pernah berharap dia akan datang padamu. Tak akan pernah sekalipun.”

Hujan perlahan berhenti. Tuhan ternyata tak menginginkanku berlama-lama dengannya. Meski aku ingin. Meski aku berharap. Rintik itu memudar diganti merah langit yang siap menutup hari, tapi kali ini tak ada pelangi. Bus kota berhenti membawanya pergi. Dan aku ternyata tak mampu mengikuti meski aku mau. Aku kalah dengan diriku sendiri. Aku ingin melupakan, tapi aku tak kuasa. Karena itu, bila ini terus kan mendera dan bila suatu kali rindu mengamuk, satu yang aku lakukan. Menanti waktu tepat untuk membersamai. Kesunyian adalah yang terbaik. Aku cukup mengucapkan terima kasih pada Tuhan atas waktu beberapa menit ini.

Di ujung penantian yang teramat panjang

foto diambil dari sini

Iklan

6 thoughts on “ketenangan semu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s