Beranda » ceritaku » Ngek-ngek: si meong yang tak dapat ngeoooooongggg

Ngek-ngek: si meong yang tak dapat ngeoooooongggg


Di rumah kami, dulu, tak pernah ada kucing. Tak ada izin bagi hewan yang suka nyolong itu nunut di gubuk kami. Bisa-bisa kami saingan merebutkan pindang heheeeh. Tapi, akhir-akhir ini. Tepatnya setelah aku melepas seragam abu-abu, ada kucing yang suka mampir ke rumah. Alhasil dia pun sering diberi sebagian jatahku. Dia tak pernah pilih makanan. Aku makan tempe, dia doyan. Aku makan tahu, dia he’em juga. Asal bukan yang pedes-pedes saja. Toh, aku juga tak suka pedas.

Kucing ini sering main ke rumah di saat tertentu. Aku masih ingat, dia sering menunggu di depan pintu. Jadi, kalau kami pulang beraktivitas sambutan dialah yang pertama setelah manusia paling mulia di rumah…meine mutty. Ekornya bundel, bulunya loreng-loreng kehitaman, dan satu yang paling khas. Si pus satu ini tak bisa ngomong “meong”, dia hanya bisa “ngeekkk….ngeekkk”. Karena itu, kami panggil dia ngek-ngek.

Suatu siang, rumah kami sepi. Semua keluar dengan urusan masing-masing. Kebiasaan, si ngek-ngek selalu dikeluarkan dari rumah sebelum kami semua pergi. Namun,tidak siang itu. Ngek-ngek memang sering masuk ke rumah saat pintu rumah kami terbuka pertama. Itu artinya sekitar jam setengah lima pagi. Masuk dan langsung ke singgasananya. Kursi merah bawah jendela. Tak hanya itu, setiap pintu terbuka di berlomba dengan kami memasuki rumah heehehhe.

Singkat cerita, siang itu yang pertama kali pulang adalah mutty. Tak tahunya di lantai banyak muntahan si ngek-ngek hamilllllllllllllll!!!!!!!! Siapa yang bertanggung jawab…..katakan!!!! jangan bohong…… itu yang kami katakan waktu itu. Maklum, dikeluarga kami si ngek-ngek ini sering kami ajak ngomong…apa lagi kalau aku lagi sendiri……meski dia hanya bisa “ngek-ngek” sambil ndelosor di keset depan kamar. heheheheeh

Mutty lah yang mengepel lantai…yang membersihkan semuanya. Sejak itu dia tak datang. kami selalu menyisihkan bagian makanannya. Kami selalu mengharap dia datang..,tiba-tiba nongol juga tuh dengan perut buncitnya..edang-edong. Akhirnya, lahirlah anak-anaknya….tiga dan sering diajak main ke rumah. Dari ketiganya hanya satu yang sering datang setelah ngek-ngek tak lagi datang ke rumah. Anak ngek-ngek kami panggil ngek-ngek juga.

Aku sering menggodanya dengan membawa makanan dan berlarian. Dia pun akhirnya mengikuti. Rasa capek yang menggelayut sepagi hilang setelah gocekan dengan keturunan pertama dari ngek-ngek.

Tak lama, generasi kedua alias cucu ngek-ngek hendak lahir. Hari itu Jumat. Aku dan mutty ke rumah sakit ada tetangga yang kecelakaan. Menjelang asar kami pulang. Rumah sepi dan terkunci. Tapi, samar-samar aku dengar….”ngeekkk”. aku cari-cari sumber suara dan aku temukan mereka sedang berlumuran darah di kasur ku…..T.I.D.A.K……merah darah kelahiran cucu ngek-ngek. Belum semua anaknya keluar, baru dua, itu pun belum terputus tali pusarnya. Anak-ngek lemas tak berdaya. Aku angkat satu persatu mereka. Aku pindahkan ke kardus. Anak ngek terus mengawasiku. Takut aku akan membuang anaknya. Dia tak mengalihkan pandangan. Tapi, aku katakan “tak akan ke mana-mana. Ini di sini” dan di luar dugaanku, sepertinya dia paham serta lantas masuk ke kardus menempatkan diri dengan sebaik-baiknya. Dua anaknya aku taruh berdekatan, mengingat satu di antara ke duanya belum lepas tali pusar.

Aku pindahkan ke belakang rumah. Malam itu aku berjaga terus melihat mereka. Aku takut mereka dimangsa tikus. Tak tahunya si anak ngek masih melahirkan satu anak lagi. Aku taruh minum dan terus menyenteri mereka.

Terakhir kali sebelum aku datang di Tanah Si Pitung, anak Ngek hamil lagi. Namun, betapa sedihnya saat aku pulang dia tak lagi mau bermain denganku. Bahkan, saat aku datang dia justru lari. Dia tak lagi mengenalku. Dia tak lagi mau makan bersamaku. Apa lagi bercanda. Bahkan, kini aku dengar ada tetangga kami yang membuang generasi Ngek-ngek sagotrah.

Teringat aku suatu hari saat telepon ke rumah dan menanyakan kabar ngek-ngek pada mutty, jawaban ini yang aku peroleh sebelum dia “dibuang”…….”lho piye Ngek-ngek ameh dolan raeneng sing didolani (itu yang dimaksud aku dan ayundaku yang diboyong suaminya)”.

 

Kini hunianku yang baru memang ada kucing. Tapi, itu tetap yang mengobati rasa rinduku pada Ngek-ngek. Dia terlalu sombong untuk diajak bermain. Dia terlalu jaim saat dipanggil: Setaby namanya.

Aku ingin katakan: Ngek-ngek dan generasinya memang bukan anggota resmi keluarga kami, tapi dia cukup mendapatkan ruang kerinduan heheheheheh MISS YOU…

Iklan

7 thoughts on “Ngek-ngek: si meong yang tak dapat ngeoooooongggg

  1. Ping-balik: for pets lover | was indah sagst

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s