Beranda » sok PUITIS » Merah Senja

Merah Senja

“Bapak, apakah saya berlebihan?”

Tanyamu yang tak bisa aku jawab. Pertanyaan yang hanya terdiri atas beberapa kata. Pertanyaan yang aku kira mudah untuk dijawab. Tak semudah itu kiranya. Tak semudah yang aku kira rupanya. Kita masih terdiam. Bagaimana pun aku tak mampu mengatakannya, meski aku ingin. Ini bukan aku sengaja, bukan pula aku ingin. Aku bukan orang yang bisa dan biasa membuat segalanya terapung tak jelas. Aku bukan tipe orang yang suka membiarkan menggantung tanpa ada keputusan. Aku kini mempertanyakan diriku sendiri. Oh Tuhan haruskah aku mengatakannya. Mestikah aku menjawabnya. Semoga Kau benar-benar beri kami kekuatan. Beri aku dan dia yang terbaik dalam segala yang terjadi.

Perpisahan ini bukanlah yang diinginkan setiap orang. Di sini ada mereka yang aku cinta. Di tempat yang tak terlalu mewah. Bahkan jauh dari kesan berlebih. Namun, penuh dengan ketenteraman. Angin itu berembus ke sela-sela rambutku yang tak terlalu panjang. Mengibarkan rasa yang tak mungkin bisa aku gambarkan.

Pandanganku jauh menerawang di tengah kota yang penuh keramaian. Di kejauhan aku lihat berentetan moda transportasi kebanggaan Tanah Betawi berjajaran. Sementara mobil-mobil pribadi tak mau mengalah demi untuk cepat sampai ke rumah. Aku tak heran dengan itu semua. Sebab, semua hanya keseharian yang telah aku saksikan. Namun, di celah kebisingan itu kami terlarut dalam diam.

Aku masih tak mampu menjawab, meski ini hanya sekadar anggukan atau gelengan. Aku tak belum mampu ketika aku harus melihatnya meneteskan air mata lebih deras dari yang sekarang aku saksikan. Ini semua sederhana. Ini semua sangat-sangat amat sederhana aku rasakan. Namun, aku tak mampu. Maafkan.

Masa depan masing-masing kita sangatlah masih panjang. Seandainya itu yang aku katakan. Tentu ini merupakan bagian dari masa depan kita masing-masing. Semua sangat mempengaruhi. Semua saling terkait. Aku ingin pula katakan tidak dan ternyata itu sekali lagi bukan hal mudah.

Detik ini juga, jiwa-jiwa keberanianku teruji. Aku justru mempertanyakan pada diriku sendiri. Benarkah ini semua. Pamitanku yang kemarin apakah sebuah keputusan yang tepat. Lantas apa pula salahku dengan keadaan yang diberikan seutuhnya untukku. Semua bukan kehendakku. Semua hanya yang aku rasakan telah adalah karunia sejauh yang Dia ingin saja.

Aku ingin lari. Aku ingin lari menjauh. Meninggalkannya dan ingin melupakan yang orang bicarakan tentang kami. Aku tak ingin pernah merasakan rongga kosong yang selama ini aku jaga dengan baik-baik terisi dengan sesuatu yang tak jelas. Aku tak pernah menduga setiap yang aku lakukan dengan dasar kewajiban ini akan berdampak negatif baginya. Atau jangan-jangan ini tak hanya terjadi padanya, melainkan pada yang lain yang aku tak tahu siapa lagi. Siapa lagi.

Panas terik yang membakar setadi siang tak tampak lagi. Kini ditutup kerai rona memerah yang makin saga. Kelam sebentar lagi akan mengembang. Namun, hal sederhana itu belum bisa aku katakan.

“Apakah saya salah? Apa yang salah dengan saya? Usia? Kita tak terlalu berbeda. Katakan! Kenapa diam?”

Tiba-tiba berondongan pertanyaan berhamburan darinya. Dai yang selama ini pendiam, anggun, dan tak ada sedikit pun suara yang terucap. Kini, mendadak seperti letusan bom yang meluluhlantakkan gendang telingaku. Menghancurleburkan tatanan yang sekian lama aku bangun atas diri seseorang setingkat dia.

Aku tak ingin melihat. Aku tak ingin mendengarnya. Aku tak akan pernah menjawab. Ya, aku tak akan pernah memberikan sedikit pun jawaban. Belum ada kesempatan paru-paruku mengambil dan mengembuskan nafas, tapi dia telah berlari. Berlari meninggalkan aku. Aku tak akan pernah mengejar. Tidak akan. Senja ini akan selalu menjadi pelajaran bagiku. Bahwa semua yang mereka kira sebuah kelebihan dan wajib dibanggakan, ternyata tak semudah itu untuk disyukuri. Bahwa semua yang mereka kira ini sebuah nilai tambah, ternyata hanya bisa melukai. Bahwa ini semua yang mereka katakan sebagai anugerah adalah musibah. Bagiku dan bagi dia atau mungkin dia-dia yang lain.

Petang membiarkan aku sendirian. Pertemuan yang tak aku inginkan saat memandang kenangan yang tak seberapa lama, ternodai hati yang menggamblangkan perasaannya. Ya, aku awalnya hanya sendiri di sini. Tak seberapa lama lalu. Tak lebih dari setengah jam, tapi mengungkapkan sebuah makna mendalam bagi seseorang. Dan aku tak akan pernah memaksakan diriku sendiri atas sesuatu yang aku tak ingin.

Selamat tinggal. Dua kata yang sejujurnya tak ingin aku katakan. Namun, ini keputusan yang tak akan pernah aku jilat kembali. Selamat tinggal. Semoga kau mengerti bahwa ini tak sesederhana yang kau katakan. Selamat tinggal. Aku tutup sekejap kelopak mata. Tertetes air selembut kasih bunda yang telah menanti. Kutengadahkan jiwaku yang kerdil. Memandang keagungan yang diwakilkan satu bintang berkelip lirih mengucapkan selamat malam.

*teruntukmu bahwa duniamu masihlah panjang. Cita-citamu lama menanti, jangan kau terpuruk hanya karena jerat hati.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s