Beranda » sok PUITIS » meminangmu (sebuah fragmen sesi II)

meminangmu (sebuah fragmen sesi II)

Telah lama aku jatuh cinta kepadamu. Tak seperti kebanyakan yang mengatakan jatuh cinta at the first sight. Aku bahkan merasa jatuh cinta dengan hanya mendengar namamu. Sejak aku mendengar saat itu pula aku mencari tahu tentangmu. Membayangkan seperti apa dirimu. Mencoba mencari gambar dan bayangan pasti lewat cerita. Aku jatuh cinta padamu sejak aku tahu ini yang terbaik. Aku sungguh tertarik padamu dengan segala kelebihanmu. Sungguh aku tak bisa tidur nyenyak saat namamu nyaring mendebarkan perasaanku. Ada keinginan kuat untuk bersama.

Suatu kali aku punya kesempatan langsung melihatmu. Mata ini rasanya tak percaya dengan segala keteduhanmu. Semua membuat hati tenteram dan nyaman. Seandainya persentase berlaku untuk mengenalmu, maka aku baru 5% tahu. Dan 95% dalam angan-angan. Semua serba tak bisa kupahami. Kau begitu bergelimangan dan wah dalam penampilan, dalam harta, dalam segalanya. Sekali lagi memang harus aku akui kau begitu berhak dengan itu. Semua orang yang mengerti kelebihanmu, aku yakin akan merebutkanmu. Semua yang ada di Indonesia ini lah.

Aku harus mengakui. Kau “sempurna” dan wajar untuk dicintai serta diperebutkan. Aku memang tak diam-diam mencintaimu hingga aku jauh-jauh datang ke sini. Di tengah ibu kota yang penat, sumpek, dan sungguh crowded. Aku katakan pada semua orang bahwa aku telah jatuh hati dan berharap bisa menjadi bagian dalam sejarahmu. Aku ingin dalam lembaran hidupku ada kamu.

Benar kata orang memang. Cinta tak harus memiliki. Bertentangan dengan hati, itu pasti. Dasar lubuk hati aku selalu menggumamkan namamu. Berharap dan selalu berharap agar ada sebuah keajaiban. Sesuatu yang bisa mengantarkanku kepadamu.

Sayang, seribu kali sayang. Begitu sulitnya mendapatkanmu, meski ada 1% kemungkinan itu. Dan itu hanya Tuhan yang bisa. Aku ingin kau melihatku dari siapa sebenarnya aku dan bukan apa yang aku miliki. Namun, kenyataan mengatakan lain. Aku harus membayar mahal untuk sebuah kebersamaan. Untuk melunasi kata “cinta”.

Aku tak mampu jika kau tak menerimaku apa adanya. Aku tentu tak bisa mengimbangi yang ada di dirimu. Semuanya.

Jika suatu kali aku benar-benar kandas menjadi bagianmu, aku berharap dapat menaklukkanmu. Aku tahu jauh di sana ada yang bisa menerimaku dengan segenap yang aku mampu. Bahwa tak semuanya yang terbaik di hadapanku akan terbaik juga di hadapan Tuhan. Meski hingga sekarang aku ingin kau pinang dengan resmi, tapi aku sebagai manusia biasa tak akan pernah lupa. Semua kehendak ada di tangan Tuhan. Meski aku tak mampu menjadi bagianmu, aku pun tak akan pernah melupakanmu. Tak akan pernah.

Aku tak akan pernah mencoba menawarkan diri dalam kapasitasku untukmu. Aku tahu diri siapa aku dan aku memiliki apa. Aku tak akan pernah mencoba hingga suatu kali kau sadar dan mencariku. Aku lebih memilih dia yang insya Allah bisa membuatku lebih tenang dan menerimaku dengan sebaik-baiknya.

Dan terakhir ingin aku katakan, berkali aku melihatmu, semakin aku merasa bahwa meski aku telah bersabar, aku telah berusaha, telah tekun, telah memiliki kepekaan hati, tapi ternyata itu tak cukup mampu.

KAU HARUS TAHU

AKU MEMANG MENCINTAIMU

AKU MEMANG TELAH JATUH HATI

NAMUN, AKU TAK MUNGKIN

BISA MENJADI BAGIAN DARIMU

BILA KAU TAK MENERIMAKU

APA ADANYA DIRIKU

TERLALU BERAT UNTUK MEMINANGMU

DENGAN SEGALA MAHAR YANG LUAR BIASA

TAK MAMPU AKU DAN KELUARGAKU BERIKAN

MESKI AKU MEMENUHI SYARAT YANG KAU AJUKAN

JAUH DI SANA

ADA

dia……..

YANG SIAP MENERIMAKU

DENGAN SEGENAP KEMAMPUANKU

Iklan

2 thoughts on “meminangmu (sebuah fragmen sesi II)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s