Beranda » sok PUITIS » layang-layang kuning

layang-layang kuning

Kau telah kembali. Kita termenung di sini. Layang-layang kuning itu terbang jauh meninggi. Setelah beberapa waktu goyang karena angin. Kesigapan tangan anak kecil itu membuatnya kembali mengayun di angkasa. Kita masih duduk di sini. Di rerumputan berselimut sinar mentari yang mulai menguning. Mega itu memutih. Menggumpal-gumpal laksana benang rajutan. Aku masih ingat saat itu kita telentang dan memilih masing-masing mega. Kala itu ada kelinci, payung, dan semua yang kita ciptakan dari imajinasi kita.
Kita masih diam. Bermandikan pikiran yang seolah menggumpal seiring mega-mega itu. Telah lama kita tak jumpa. Bukan fisik, tapi jiwa. Aku merasa tak menemukanmu kembali. Meski kenyataan saat ini kau ada di sisi. Aku menangkapmu bagai sinyal. Terkadang kita terasa sangat dekat. Begitu dekat dan nyata. Hingga aku mampu mencapai semua hal denganmu. Namun, tak jarang aku sulit menemukanmu. Hanya untuk menyapa. Meski kau ada di dekatku. Di depan mataku.
Kau memang di sini. Di dekatku. Sangat dekat. Namun, aku merasa jauh. Semakin jauh darimu. Mencoba meredakan letupan-letupan di jiwa. Berusaha menenangkan diri dan mencari letak sinyal-sinyal itu sebelum aku merasa lelah.
Aku diam. Kau diam. Kita diam. Tak ada yang memulai. Angin terus berembus. Mengibarkan pucuk-pucuk daun. Hijau rerumputan ini makin ramai. Mereka saling berkejaran dan menangkap satu sama lain. Mata mereka berbinar. Senyum mereka merekah. Lantas kita? Aku mencarimu. Kau ada di sisiku, tapi di mana?
Layang-layang kuning itu melayang jauh ke angkasa. Mengitari sejauh jangkauan hingga lelah. Kita masih di sini, tapi tak saling memandang. Permadani alam kian resah menunggu kita beranjak. Senja kala mulai bersiap menutup tirainya. Tapi kita masih membisu. Senyap tak tertanggungkan. Aku berupaya diam. Membiarkan diri tenggelam dalam diam. Entah apa yang kau pikirkan. Tapi, kau tahu sebenar-benarnya aku yang tak akan memulai. Yang tak akan berinisiatif. Aku laksana layang-layang kuning dan kau anak kecil itu. Bilamana kau tak menginginkannya, maka aku akan diam di sini. Aku tak akan terbang meski angin begitu menderu. Aku tak akan mengarungi tingginya awan jika tali itu tak kau genggam erat. Aku merasa begitu berharga saat kau mempertahankanku saat tali itu putus. Tapi tak ada lagi. Tak ada lagi.
Kini. Mega senja berarak kelabu. Tali layang-layang kuning putus. Anak kecil itu tak memperhatikannya lagi. Mungkin bosan. Angin mulai ribut. Dan dibiarkannya layang-layang kuning menukik tajam. Mendalam. Di sela-sela rumput hijau. Batas-batas pendar cakrawala memudar.

(06092010)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s