Beranda » ageming ati » fitrah

fitrah

Iktikaf masjid Bimantara pagi ini ditutup dengan sebuah tausyiah. Luar biasa bahwa ternyata puasa, salat, zakat, dan qiyamullail kita tak akan berguna jika kita tidak kembali ke fitrah. Seorang hamba yang fitrah saat 1 syawal nanti diibaratkan seperti anak kecil anak kecil. Tahu kenapa?

Pertama, Seorang anak kecil sangat menyenangkan bila dipandang. Dia membuat kita rindu. Dia membuat kita ingin selalu di sampingnya. Semua yang ada di dekatnya terasa menyenangkan. Pun dengan kita. Bila benar kita kembali pada fitrah, maka kita akan seperti anak kecil itu. Menyenangkan jika dipandang, membuat orang lain nyaman, dan selalu dirindukan semua orang.

Kedua, orang yang kembali kepada fitrah lebih sering menganggap semua sebagai masyaAllah, dari pada masalah. Pun dengan anak kecil. Dia tidak menganggap apa yang ditemuinya adalah masalah, melainkan sebuah kekaguman. Semua dirasa hebat. Sayangnya, selama ini kita lebih ‘senang’ menganggap semua adalah masalah.

Ketiga, seorang anak kecil tidak pernah merasa dendam. Mereka tidak pernah bertengkar lebih dari satu hari. Ketika mereka ada “masalah” saat ini maka beberapa jam kemudian akan selesai dan akan bermain bersama lagi. Lantas bagaimana dengan kita? Ketika kita telah bersusah payah puasa, kita telah merelakan bangun dini hari untuk salat malam. Mengeluarkan zakat, tapi kita tak kembali ke fitrah. Orang yang bijak adalah yang selalu memaafkan, bukan yang selalu minta maaf. Sebab, orang yang selalu minta maaf adalah orang yang sering berbuat kesalahan.

Keempat. Seseorang yang benar-benar kembali pada fitrah adalah orang yang jujur. Mengatakan segala sesuatu sesuai dengan kenyataan. Anak kecil tak pernah berbohong. Mereka mengatakan apa yang mereka tahu. Mereka menyampaikan apa yang sebenarnya. Lantas bagaimana dengan kita?

Apakah kita benar-benar akan kembali pada fitrah jika kita masih membuat orang lain marah, benci, tak ingin bertemu, dan tidak nyaman dengan kita?

Apakah kita benar-benar akan suci bila kita lebih sering mengeluhkan masalah dari pada mengagumi yang Allah berikan?

Benarkah kita akan kembali fitri jika kita hingga detik ini masih saja merasa dendam dengan orang lain, tidak mau melihatnya, tidak mau menyapanya, tidak ingin bertemu?

Bilakah kita akan kembali pada fitrah jika kita masih suka berbohong? Menutupi kejujuran, bahkan dengan diri sendiri sekalipun?

Akankah kita kembali menjadi jiwa-jiwa yang suci sesuci bayi yang keluar dari rahim ibunya jika kita hingga detik ini masih saja melakukan semuanya?

Allahurabbi, hanya Kaulah seadil-adilnya Penilai.

Wallahu’alambishowab

(pagi, 05092010)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s