Beranda » sok PUITIS » pergimu

pergimu

Keceriaan itu tak lagi muncul. Awan-awan pun seakan mengerti kegelisahan kami. Warna biru yang beberapa waktu lalu membalut langit seketika menjadi kelabu. Burung yang bertengger di ranting cemara telah menepi entah ke mana. Sepi. Tak ada kata di antara kami. Kelopak-kelopak kehangatan yang beberapa saat kami rasakan, kini sedingin salju di kutub utara.
Mentari malas menyapa bulatan yang dihuni berpuluh juta anak Adam. Sementara jarum perak itu mulai menghujami. Lirih. Kami belumlah saling bicara. Kami terlarut dalam pikiran masing-masing.
Masih lekat dalam ingatan kebersamaan kita dalam waktu yang sesingkat ini. Belumlah kering tawa kita di tengah kerumunan saat bergandeng tangan. Semua laksana fatamorgana yang tiada akan aku temukan kembali bersamamu. Air itu terus mengalir seiring derasnya tumpahan air dari langit.
Ingin rasanya memintamu untuk tidak beranjak dari kursi ini. Tanpa menoleh, kau langkahkan kaki menuju pintu besi. Senja ini tak terasa kembali menjumpai. selasar itu panjang, sejurus jarak yang akan memisahkan kita. Ular itu menelanmu. Lagi-lagi tak aku temukan tatapan mata elang itu. Aku masih duduk. Menunduk dengan rintik-rintik kecil di sudut mata. Sudut-sudut yang menyimpan sejuta kerinduan tentangmu. Sudut-sudut yang tidak akan pernah berhenti untuk memandang bayanganmu. Aku tidak tahu, apakah kau akan sepertiku. Mengurai kesendirian dengan rangkaian kata-kata. Menjejali kesendirian dengan melukis bayang-bayang. Kanvas itu semakin mewujudmu. Menatah satu persatu bagian wajahmu.
Derit-derit itu menandakan kau akan beringsut sejalan dengan tatanan jalan besi yang jauh meliuk-liuk. Aku tak mampu menahanmu. Kepergian yang tak akan pernah bisa aku lupakan. Aku tidak menyalahkan setiap keputusan yang kau ambil. Namun, aku menyesalkan ketidakmampuanku dalam kesendirian. Tahukah kamu bahwa kesendirian adalah hantu yang siap mencekik siapa pun. Bahwa keterasinganku terhadapmu membawa pengucilan diri atas semua yang terjadi rimba raya ini. Hujan dan angin yang dulu menyejukkan hati kita, kini justru membawa badai dalam diri yang tak bisa lagi berpaling.
Aku menatap lurus ke depan. Tak ada lagi sesuatu, kecuali dedaunan yang basah sisa hujan. Lalu lalang aktivitas mereka. Titik-titik butiran air. Kelam temaram senja yang makin nyata semakin membawaku kian jauh darimu. Akankah kau pun tetap tegak lurus menatap setiap yang di depanmu seperti aku? Akankah kau tidak berpaling atas semua yang melintas di benakmu di depan mata menawanmu. Hujan itu membasahi tanah-tanah, membentuk pulau-pulau gersang tak berpenghuni. Dan, haruskah aku beranjak dari sini?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s