Beranda » sok PUITIS » hujan pagi

hujan pagi

Kepak-kepak sayap merpati itu terdengar sendu. Bunga-bunga Kamboja jatuh berderai-derai. Hari masih begitu pagi. Mentari belum menyentuh embun-embun. Namun, aku sudah mengabsenkan diri di sini. Entah terpekur atau sekedar berdiam diri.
Apakah aku berbicara pada diriku sendiri. Mengucapkan kata yang mungkin juga engkau dengar. Dia pun pasti mendengar. Mendengar sejak kata itu masih berada di dalam hatiku. Pagi ini. Aku seperti pagi-pagi sebelumnya. Kamu masih ingat kan dengan kebiasaanku? Jangan sampai sedikit pun kau melupakannya. Seperti aku yang tak pernah mengalpakan kebiasaanmu. Bertahun kita bersama, bukan hal mudah bukan untuk saling melupakan kesukaan, kebiasaan, dan perangai kita masing-masing. Kau dengar kan? Kau masih ingat kan? Kenapa kau masih diam dan membiarkan aku mengoceh seperti kutilang itu? Kau mendiamkan aku ya?
Aku selalu menyiapkan segala sesuatu masih seperti dulu. Angin-angin yang berhembus seperti ini menjadi momen untuk kita minum teh bersama. Aku ingat, waktu itu kau bilang bahwa teh baik untuk kesehatan kita. Namun, dibalik kesukaanmu dalam menikmati minuman berwarna cokelat itu, kau masih bertutur bahwa teh tidak sebaik yang kita kira. Teh, katamu, jangan diminum sebelum perut kita terisi. Kamu dengan rinci memaparkan kalau teh diminum saat perut kosong akan membuat asam lambung kita meningkat. Pun saat aku minum teh setelah makan kau juga melarang. Zat makanan akan dicuri zat stimulan teh, ujarmu. Terus kapan kita minum teh? Dan dengan senyum kau menjawab. Saat seperti ini. Saat kita bersama. Saat perut kita tidak terlalu kosong karena sekerat roti telah mengganjalnya. Atau saat perut kita tak terlalu kenyang.
Kau lihat sekarang. Aku tak lagi minum teh seperti yang kau ajarkan dulu. Aku meminumnya sesuka hatiku sesuai selera tanpa pernah memperhatikan seperti kau memperhatikannya.
Apa kau ingat. Kau begitu marah ketika pertama kali aku menyeduh teh untukmu. Aku tak tahu bahwa teh seharusnya tak diberi gula. Zat yang terkandung menjadi hilang karena gula yang masuk di dalamnya. Itu menurut yang pernah kau baca dan akhirnya kau sampaikan kepadaku. Aku tak tahu. Sungguh tak tahu. Namun, sekilas kau tampak tersenyum. Memberikan senyum yang tak pernah kulihat sebelumnya. Sejenak aku berpikir, pernahkah senyum seperti ini kau berikan kepada orang lain sebelumnya kau berikan kepada ku? Ehm, betapa beruntungnya aku bila tak ada seorang pun. Dan bila ada yang pernah kau berikan, seandainya dapat, akan aku tarik kembali. Akan aku minta meski memberikan seluruh harta yang kumiliki. Asal bukan kau.
Kau lihat pagi ini. Bola bundar itu mulai mengerdip. Langit merah itu kesukaanmu pula bukan? Tentu. Setiap langkahmu, kucatat baik-baik dalam memoriku. Waktu itu pagi. BMG memperkirakan musim penghujan akan berakhir di bulan Juli. Bulan pertengahan di setiap tahunnya. Kau mengendap-endap di tengah gerimis yang tak kunjung reda sejak semalam. Rintik itu tirai-tirai yang mengurai di antara jendela-jendela besar. Kau kucari di berbagai sudut. Tak kutemukan. Namun, tiba-tiba menyembul dengan krisan putih di tangan kananmu. Kapan kau bawakan aku bunga itu lagi? Akan tak mungkin kurasakan lagi basah bunga putih dengan kelopak bertumpuk-tumpuk itu? Kau begitu marah hingga tak lagi kau dan aku bersama menikmati setiap yang kita sukai.
Rumput dan dedaunan itu kau lihat? Mereka masih malu dengan semburat senyum yang kau beri. Embun yang menempel itu bukti bahwa mereka berkelambu. Menutup dari lirikan mata cokelatmu. Kau tak bosan bukan dengan ocehanku? Atau kau tak merasakan keberadaanku? Tapi aku tak menyesal bila pagi hariku selalu kuhabiskan bersamamu seperti ini.
Angin berhembus. Kali ini lebih kencang hingga aku merapatkan switer rajutan. Kamu tidak kedinginan? Biasanya kau akan bersin-bersin bila angin itu kencang-kencang berhembus. Sampai-sampai kau tak pernah mau ke air terjun di kampung sebelah. Bikin masuk angin alasanmu. Benarkah? Aku sempat tak percaya. Orang sepertimu tergoyahkan angin. Sejak kapan? Tak pernah sedikit pun terbayang bukan. Apakah itu alasanmu pula tidak begitu menyukai es? Tidak. Jawabmu. Kau tak begitu menyukai es karena alasan ilmiah. Kau berkata, kalau seharusnya kita minum atau makan mendekati suhu tubuh kita, agar tubuh kita tak susah mencernanya. Oh ya? Aku hampir-hampir tak percaya. Tapi aku tahu kau orang yang sangat teliti. Melebihi aku. Kau orang yang terpelajar jauh di atas ku. Sebab itu aku bisa bertahan denganmu. Hingga kini.
Kamboja-kamboja itu berserakan. Biasanya kau paling tak suka melihat daun atau bunga di halaman terserak begitu saja. Cepat-cepat kau ambil sapu dan mengaraknya ke kubangan yang kau cangkul di samping. Tapi, sekarang kau diam termangu. Membiarkan bunga warna semburat merah putih berbau harum itu terlempar-lempar angin.
Langit mulai membiru. Percikan air di dedaunan telah mengering. Burung tak ada lagi yang tinggal di sangkarnya. Namun, tanah masih basah. Aku harus pergi ke kantor. Ada beberapa naskah mahasiswa yang harus aku baca. Kasihan mereka lama menungguku. Apakah kau tak keberatan? Ehm, tentu kau sama sekali tak keberatan bukan? Kau kan juga harus menyelesaikan beberapa penelitian yang tertumpuk di mejamu. Hasil kunjunganmu ke berbagai daerah.
Tanah itu basah, meski tak lagi merah. Basah dengan hujan semalam. Hujan yang mengguyur seperti suatu pagi kau meninggalkan aku. Aku pergi. Syal kesayanganmu aku bawa sebentar. Esok kan kuberikan lagi. Aku yakin Kamboja dan merpati itu setia menemanimu. Hingga pagi menjelang besok aku datang lagi.
Kau ada pesan untukku pagi ini? Bila tidak. Sekerat roti berlapis margarin dan abon di meja. Cokelat panas ada di sampingnya. Kau tahu persis tempatnya.

20 april 2010

zain

Iklan

4 thoughts on “hujan pagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s